Terkini

Anak Oleh-oleh, Tanpa Suami dari Para TKW di Luar Negeri

Foto: dok. fathia mutiara/bidikin.com
Author: Fathia Mutiara

BIDIKIN.COM – Hubungan antara orang tua dan anaknya sering dikaitkan dengan pepatah 'buah tidak jatuh dari pohonnya.' Pepatah ini memiliki makna bahwa sifat anak tidak akan jauh-jauh dari representasi orang tuanya. Setiap anak pasti mewarisi sifat dari orang tuanya, entah itu berupa sifat genetik atau emosional. Namun, pernahkah terfikirkan dengan pewarisan nasib? 

Anak oleh-oleh, sering kali menjadi sebutan untuk anak-anak tenaga kerja wanita luar negeri Indonesia yang terlahir dari hubungan orang tuanya dengan warga negara asing. Kasus ini banyak terjadi disebabkan orang dewasa yang membutuhkan teman di tengah beratnya hidup di perantauan. Anak oleh-oleh akan dibawa pulang tanpa orang tua yang lengkap. Karena secara jelas, hubungan yang dimiliki orang tuanya hanya bersifat sementara. 

Sebagai contoh kasus, menurut BBC Indonesia, di Lombok Timur tercatat sebagai salah satu kabupaten pengirim tenaga kerja migran terbesar. Dipaparkan bahwa dari satu desa terdapat 530 anak yang tidak tinggal bersama orang tuanya dan lebih dari 100 anak-anak tersebut adalah anak oleh-oleh. 

Anak oleh-oleh yang ditinggal merantau akhirnya dititipkan bersama kerabat. Pahitnya, banyak anak oleh-oleh terutama kasusnya pada anak perempuan yang melaksanakan pernikahan dini. Hal ini disebabkan karena dorongan keluarga pengasuhnya yang banyak beranggapan bahwa dengan menikah, selesailah 'beban' tanggung jawab untuk merawat anak oleh-oleh. Pernikahan yang dilaksanakan dengan harapan menjadi jalan keluar pun tidak lantas membuat pernikahan anak oleh-oleh berjalan dengan lurus. Banyak diantaranya yang malah berujung kekerasan hingga perceraian yang tidak baik-baik. Lantas, jika kerabat atau bahkan tetangga sekitarnya saja tidak peduli, siapa yang akan merangkul anak oleh-oleh? 

Prof. Dr. Sukamdi, M.Sc., dalam media online Universitas Gadjah Mada menyampaikan, tidak sedikit pekerja migran yang mengalami ketidakharmonisan keluarga. Selanjutnya beliau memaparkan, anggota yang paling menjadi korban adalah anak dari para pekerja migran. Terdapat banyak anak-anak yang mengalami kasus kesehatan mental akibat kurangnya pendampingan orang tua. Akses-akses yang seharusnya menjadi hak mereka pun tidak terlaksana dengan dengan lancar.

Banyak anak oleh-oleh yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan akibat dari pendidikan yang tidak didapatkan secara cukup. Tak dapat disangkal, hal ini juga berfaktor pada cap buruk di masyarakat mengenai anak oleh-oleh. Keadaan ini membuat anak oleh-oleh akhiranya memutuskan untuk merantau ke luar negeri dan mengikuti jejak orang tua mereka. Kemudian di waktu yang berikutnya, mereka akan membawa anak oleh-oleh lain dari hasil hubungan sementara mereka di luar negeri.

Siklus hidup tersebut akan berputar dengan permasalahan yang sama dengan orang tua mereka. Membuat anak oleh-oleh terjebak dalam warisan nasib yang tidak diinginkannya. Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, dalam wawancara BBC Indonesia mengatakan, pusat permasalahan anak oleh-oleh ini tidak lain adalah kemiskinan. Dengan penyelesaian kemiskinan, akan membuat lebih banyak calon pekerja migran pilihan baru untuk melanjutkan kehidupan. Namun hingga kini, upaya dari pemerintah untuk mengatasi ini pun belum menunjukkan hasil yang nyata, sementara anak oleh-oleh terus hidup dalam pewarisan nasib yang menjerat. 



0 Comments


Type and hit Enter to search

Close