
Foto: reiza muthoharah/bidikin.com
Author: Reiza Muthoharah
BIDIKIN.COM – Di balik citra keluarga harmonis yang sering diidealkan dalam masyarakat Indonesia, terdapat kenyataan pahit yang dialami oleh sebagian besar anak: trauma terhadap sosok ayah. Fenomena ini bukan sekadar kasus per kasus, melainkan telah menjadi masalah sosial yang diam-diam mengakar dalam banyak rumah tangga di negeri ini.
Sosok Ayah yang Menjadi Sumber Ketakutan
Dalam banyak budaya, termasuk Indonesia, ayah sering diposisikan sebagai figur otoritas tertinggi dalam keluarga. Sayangnya, peran ini tidak selalu diimbangi dengan pendekatan emosional yang sehat. Banyak anak tumbuh dengan ayah yang keras, tidak komunikatif, atau bahkan kasar—baik secara fisik maupun verbal.
Dalam laporan dari berbagai lembaga perlindungan anak, kekerasan dalam rumah tangga sering kali dilakukan oleh ayah terhadap istri dan anak-anaknya. Walau banyak kasus tidak pernah sampai ke ranah hukum atau media, luka emosionalnya menetap dalam jiwa anak selama bertahun-tahun, bahkan hingga dewasa.
Bentuk-Bentuk Trauma yang Umum Dirasakan
• Trauma yang dialami anak terhadap sosok ayah bisa beragam bentuknya, antara lain:
• Rasa takut yang mendalam setiap kali mendengar suara langkah atau nada tinggi dari sang ayah.
• Ketidakmampuan membangun hubungan sehat dengan figur laki-laki lain, terutama pasangan, akibat luka masa lalu.
• Overachieving atau ketakutan gagal karena ayah yang selalu menuntut kesempurnaan.
Dissosiasi emosional anak menjadi tertutup, sulit mengekspresikan emosi karena terbiasa menahan diri di hadapan ayah yang tidak suportif.
Budaya Patriarki dan Luka yang Diwariskan
Budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia turut melanggengkan pola ini. Laki-laki diajarkan sejak kecil untuk tidak menangis, tidak menunjukkan kelemahan, dan menjadi “pemimpin rumah tangga” tanpa dibekali keterampilan emosional yang memadai. Akibatnya, banyak ayah yang tidak mampu menjadi figur suportif dan hangat, karena mereka sendiri pun tumbuh tanpa panutan yang sehat.
Inilah yang disebut sebagai luka yang diwariskan antargenerasi. Seorang ayah yang tumbuh dalam keluarga yang dingin atau keras, tanpa sadar mengulang pola itu kepada anak-anaknya.
Minimnya Ruang untuk Penyembuhan
Masih banyak orang tua di Indonesia yang menganggap kesehatan mental sebagai hal yang “lebay” atau tidak penting. Anak-anak yang mencoba berbicara tentang luka batin mereka sering kali dianggap tidak tahu berterima kasih atau terlalu manja. Akibatnya, ruang dialog dan penyembuhan hampir tidak pernah tersedia di dalam keluarga.
Terlebih lagi, stigma terhadap terapi psikologis membuat banyak anak—dan bahkan orang dewasa memendam trauma ini seumur hidup.
Menuju Sosok Ayah yang Lebih Sadar Emosi
Untuk mengubah pola ini, perubahan harus dimulai dari kesadaran. Para ayah masa kini memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak, mulai dari:
1. Meningkatkan kesadaran diri emosional.
2. Belajar mendengar tanpa menghakimi.
3. Menghindari kekerasan dalam bentuk apapun, baik fisik, verbal, maupun psikologis.
4. Menunjukkan kasih sayang secara aktif melalui pelukan, kata-kata positif, dan waktu bersama.
Menghadirkan figur ayah yang sehat bukan berarti menjadi sempurna, tapi menjadi manusiawi yang mampu mengakui kesalahan dan bertumbuh bersama anak.
Indonesia sedang menghadapi krisis sunyi: anak-anak yang terluka oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung mereka. Saatnya kita sebagai masyarakat menyadari bahwa trauma anak terhadap ayah bukan sekadar “masalah keluarga”, melainkan isu serius yang bisa membentuk generasi mendatang. Membangun ayah yang sadar emosi adalah investasi jangka panjang demi masa depan bangsa yang lebih sehat, baik secara mental maupun emosional.
0 Comments