![]() |
| Ilustrasi Isaac Newton dan Al Khazini |
Nama Isaac Newton hampir selalu hadir ketika membicarakan hukum gravitasi. Kisah ikonik tentang apel yang jatuh dan menginspirasi Newton menyusun teori gravitasi menjadi bagian dari narasi besar sejarah ilmu pengetahuan. Namun, jauh sebelum Newton lahir, ilmuwan Muslim bernama Al-Khazini telah mengembangkan gagasan serupa tentang gaya tarik bumi yang kini disebut gravitasi.
Isaac Newton lahir pada tahun 1643 di Inggris. Ia dikenal luas sebagai fisikawan, matematikawan, dan filsuf alam yang berpengaruh besar dalam Revolusi Ilmiah. Salah satu pencapaiannya yang paling monumental ialah hukum gravitasi universal, sebagaimana ditulis dalam karya Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica tahun 1687. Dalam buku tersebut, Newton menyatakan bahwa setiap benda memiliki gaya tarik menarik terhadap benda lain, yang besarnya dipengaruhi oleh massa dan jarak antara keduanya. Dengan menggunakan pendekatan matematis yang kuat, Newton berhasil merumuskan hukum-hukum gerak dan gravitasi yang mampu menjelaskan berbagai fenomena alam secara akurat, termasuk orbit planet dan gerakan benda-benda di bumi.
Di sisi lain, Al-Khazini hidup sekitar abad ke-12 di wilayah Khurasan, yang kini termasuk dalam kawasan Iran dan Turkmenistan. Ia merupakan ilmuwan, insinyur, dan ahli fisika yang bekerja di istana Seljuk. Salah satu karya terkenalnya berjudul Kitab Mizan al-Hikmah (Buku Keseimbangan Kebijaksanaan). Dalam buku tersebut, Al-Khazini membahas konsep berat, densitas, tekanan hidrostatik, dan fenomena gravitasi secara kualitatif. Ia mencatat bahwa berat suatu benda dapat berubah tergantung pada posisinya terhadap pusat bumi. Meskipun belum dirumuskan dalam bentuk hukum matematis seperti yang dilakukan Newton, pemikiran Al-Khazini mencerminkan cikal bakal pemahaman tentang gravitasi yang berkembang di dunia Islam jauh sebelum era Eropa modern.
Namun, nama Al-Khazini nyaris tak terdengar dalam buku-buku sains modern. Salah satu penyebabnya adalah faktor politik dan dominasi intelektual Barat setelah abad ke-16. Ketika Eropa memasuki era Renaissance dan Revolusi Ilmiah, dunia Islam justru mengalami kemunduran akibat konflik internal, penjajahan, dan invasi eksternal, termasuk penghancuran pusat-pusat ilmu seperti Baghdad pada tahun 1258 oleh bangsa Mongol. Banyak manuskrip keilmuan Islam yang hilang atau tidak terdokumentasikan dengan baik. Sebaliknya, Eropa mulai membangun institusi pendidikan, mencetak buku-buku ilmiah dalam bahasa Latin dan Inggris, serta menyebarkan gagasan mereka secara global.
Selain itu, Barat berhasil menguasai narasi sejarah sains. Buku-buku sejarah yang ditulis selama masa kolonial lebih banyak menonjolkan tokoh-tokoh Eropa sebagai penemu dan pelopor, sementara kontribusi ilmuwan Muslim dan Timur Tengah sering diabaikan atau diminimalkan, Al-Khazini tidak terkecuali. Meskipun pemikirannya berpengaruh besar dalam perkembangan teknologi timbangan, pengukuran massa, dan konsep tekanan, namanya jarang muncul dalam kurikulum sains modern.
Perbedaan utama antara Al-Khazini dan Newton terletak pada pendekatan dan dokumentasi keilmuan. Newton menulis teorinya dengan bahasa matematis yang sistematis dan dapat diuji dalam berbagai eksperimen. Hukum gravitasi Newton menjadi dasar bagi berbagai pengembangan teknologi, seperti peluncuran satelit, sistem navigasi GPS, hingga perhitungan lintasan roket. Sementara itu, meskipun Al-Khazini juga melakukan eksperimen dan observasi, karya-karyanya lebih bersifat filosofis dan tidak didukung oleh sistem notasi ilmiah yang bisa diadopsi secara luas oleh ilmuwan lain.
Manfaat dari pemahaman gravitasi di era sekarang sangat luas. Gravitasi memungkinkan bumi mempertahankan atmosfer, mengatur arus air, dan menjaga benda-benda tetap berada di permukaan. Dalam bidang teknologi, gravitasi menjadi kunci dalam peluncuran satelit, pembangunan sistem transportasi modern, pengembangan energi air, dan penelitian luar angkasa. Tanpa pemahaman gravitasi, tidak akan ada GPS, teleskop luar angkasa, atau riset kesehatan di stasiun orbit rendah.
Sudah saatnya sejarah sains ditulis ulang dengan cara yang lebih inklusif dan adil. Isaac Newton memang berperan besar dalam membangun kerangka ilmiah modern, namun kontribusi ilmuwan Muslim seperti Al-Khazini juga layak mendapat tempat dalam panggung sejarah dunia. Ilmu pengetahuan bukan milik satu bangsa, melainkan hasil dari estafet panjang lintas peradaban yang saling melengkapi.
Author: Hamidah Sukriah Dawami

0 Comments