Terkini

Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik: Meminimalisir Toxic Parents dan Mengatasi Pola Asuh yang Salah dalam Perspektif Islam

Pendidikan adalah investasi masa depan bagi anak. Namun mendidik anak bukanlah tugas yang mudah, karena memerlukan kesabaran, kasih sayang, dan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan karakter unik setiap anak. Kita seringkali melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang terkadang tak kita sadari, yang bisa berdampak besar pada perkembangan mereka dalam membentuk kepribadian, dan menentukan masa depan mereka. Sebagai orang tua, kita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Namun apakah kita sudah melakukan pola asuh yang benar?

Mengubah Pola Asuh yang Salah

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dapat memiliki pengaruh besar pada perkembangan anak. Namun, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pola asuh yang mereka terapkan dapat berdampak negatif pada anak-anak mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami pola asuh anak. Pola asuh yang salah dapat berupa orang tua yang terlalu otoriter, mengabaikan kebutuhan emosional anak, atau terlalu permisif sehingga tidak memberikan batasan yang jelas. Mereka mungkin juga menggunakan hukuman fisik atau verbal sebagai bentuk disiplin secara berlebihan, tidak memberikan kasih sayang dan dukungan yang cukup, atau memiliki harapan yang tidak realistis terhadap anak. Semua ini dapat mempengaruhi perkembangan emosi, perilaku, dan kepercayaan diri anak sehingga kita sebagai orang tua bisa dianggap sebagai toxic parents.

Mengenal Istilah Toxic Parents

Toxic parents adalah orang tua yang berperilaku tidak sehat sehingga dapat menyebabkan kerusakan emosional dan psikologis pada anak-anak mereka. Terkadang saat kita marah, secara tidak sadar kita melontarkan kalimat yang tidak pantas seperti "dasar anak nakal susah diatur" , tanpa kita sadari kalimat tersebut dapat mempengaruhi jiwa anak yang membuat anak akan sulit menerima dirinya sendiri. Terkadang perkataan yang kita anggap sebuah candaan atau hanya pelampiasan belaka justru menjadi racun yang dapat membunuh karakter dan merobek hati anak. Psikolog modern menyebutnya sebagai verbal abuse ringan, yakni bentuk kekerasan yang tidak meninggalkan bekas luka di kulit, padahal anak adalah amanah.

Contoh Toxic Parents dengan Pola Asuh Otoriter dan Verbal Abuse dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Mengancam dan mengekang anak tanpa alasan yang jelas.
  • Memukul anak dengan tujuan memberi rasa jera untuk kesalahan-kesalahan kecil anak.
  • Orang tua melarang anak menjalani hobinya dan sebaliknya mereka memaksa anak untuk mengikuti keinginan mereka.
  • Tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk berpendapat.
  • Mengkritik dengan kata kasar yang tidak pantas di dengar anak dan bernada tinggi.

Dampak Pola Asuh yang Salah dan Toxic Parents

Dampak toxic parents terhadap anak bisa sangat signifikan dan berdampak jangka panjang. Berikut beberapa contoh dampak negtif pola asuh yang salah dan toxic parents bagi anak.

  • Anak yang tumbuh di lingkungan yang toxic dengan pola asuh yang salah akan mengalami krisis jati diri karena mereka dipaksa untuk memenuhi keinginan orang tua dan komentar orang yang ada di sekitar mereka.
  • Mereka akan merasa trauma hingga dewasa, karena omongan orang tua akan menjadi suara hati anak yang akan terus mereka dengar sampai kapanpun.
  • Anak yang menjadi korban toxic parents akan kesulitan untuk bergaul dan sulit percaya pada di sekitarnya.
  • Anak cenderung menerapkan pola asuh yang sama dengan pola asuh yang ia alami semasa kanak-kanak hingga remaja.
  • Menurunkan kemampuan berpikir secara jernih dan anak cenderung berperilaku agresif.
  • Anak akan mengalami gangguan kecemasan dan depresi.
  • Anak menjadi nekat dan cenderung melawan orang tua.
  • Berisiko pergi dari rumah dan bunuh diri karena merasa lelah dengan tuntutan yang ia dapatkan sehari-hari.

Pendekatan yang Dilakukan Orang Tua dalam Memutus Rantai Toxic Parents dan Pola Asuh yang Salah

  • Orang tua sebaiknya menjadi pendengar dan penasehat yang baik bagi anak. 
  • Tidak menghakimi kesalahan anak tanpa menelaah penjelasan dari anak.
  • Memberi dukungan dan semangat bagi anak.
  • Belajar bersabar dalam menghadapi perilaku anak.
  • Mengajari  anak dengan lemah lembut.
  • Mengontrol kendali saat marah atau diam agar tidak mengucap kalimat yang dapat merusak jiwa anak.
  • Mengajari dan menanamkan pendidikan karakter bagi anak.
  • Mendoakan anak agar bisa berubah menjadi lebih baik.
  • Menenangkan anak ketika sedang dalam keadaan putus asa.

Dalil Tentang Mendidik Anak dalam Islam

Diriwayatkan dalam hadist (HR. Tirmidzi) "Anak-anak kalian adalah amanah dari Allah, dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas perlakuan kalian terhadap mereka."

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua hadits tersebut menekankan pentingnya tanggung jawab orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka. 

Sementara itu diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Rasulullah SAW bersabda: "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka."(HR. Ibnu Majah).

Hadist ini menekankan, bahwa orang tua harus memuliakan anaknya dengan tidak membanding-bandingkan dan mengumpati anaknya. Dengan demikian agar anak juga berbakti kepada orang tuanya dikemudian hari.

Selain itu Rasulullah SAW juga menekankan tentang anjuran menjaga lisan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR.Bukhari Muslim)

Hadist tersebut menekankan pentingnya menjaga lisan, begitupun ketika marah, lebih baik diam karena dikhawatirkan apabila berkata maka akan keluar kata-kata yang buruk. Hadist ini juga berkaitan dengan keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir.

Tanggung Jawab Mendidik Anak dalam Perspektif Islam

Imam Al-Ghazali memandang jiwa anak-anak seperti kertas kosong tanpa coretan dan garis apapun. Jiwa anak-anak siap ditulis dan akan menerima model tulisan apapun yang tercermin dalam jiwanya. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menilai bagaimana cara orang tua dan lingkungan sekitar yang akan menulis dan membentuk jiwa dan karakter anak.

اعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه

Artinya, “Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, mutiara berharga, bersih dari segala ‘ukiran’ dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap ‘ukiran’ dan cenderung pada ajaran yang diberikan kepada mereka,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz III Halaman 77).

Imam Al-Ghazali mengatakan, orang tua memikul tanggung pendidikan karakter dan pengasuhan anak. Orang tua akan menuai pahala ketika mendidik anaknya dengan baik. Sebaliknya, orang tua akan memikul dosa yang begitu besar ketika membiarkan begitu saja pertumbuhan anaknya. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh lalai dan abai dalam mendidik, mengasuh, dan membimbing anak. 

فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له

Artinya, “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia pun akan mendapat pahala dari amal saleh yang dilakukan anaknya (tanpa mengurangi hak pahala anak). Demikian juga berlaku bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Sementara dosanya juga ditanggung pengasuh dan walinya,” (Imam Al-Ghazali, kitab Ihya' Ulumuddin Juz III Halaman 77).

Sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak kita sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan memahami pola asuh yang salah dan berusaha untuk menjadi orang tua yang peduli dan bertanggung jawab, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan dekat dengan Allah SWT. Semoga kita dapat menjadi orang tua yang baik dan mendapatkan ridho Allah SWT dalam mendidik anak-anak kita.


Author: Latif Sonya Makbila

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close