Di sebuah kota besar di Pulau Sumatera hiduplah sepasang kakak dan adik bernama Denis dan Diana. Usia mereka sendiri Denis tujuh belas tahun dan Diana berusia dua belas tahun. Mereka hanya hidup berdua, tidak bersama orang tua karena orang tua mereka sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa pada saat Denis berusia lima belas tahun akibat kecelakaan lalu lintas saat keduanya sedang pergi bekerja. Kehidupan mereka yang dulu bisa dikatakan sangat cukup dalam segi ekonomi turun drastis menjadi sangat sederhana, karena harus membayar ganti rugi orang yang ditabrak oleh orang tua mereka. Sehingga bisa dikatakan mereka berdua hidup sebatang kara di kota ini. Denis sendiri bersekolah di SMA Negeri, begitupun adiknya yang bersekolah di SD Negeri yang sebentar lagi akan memasuki SMP. Kalau kalian bertanya kenapa mereka tidak tinggal bersama saudaranya? Karena mereka tidak ingin merepotkan orang lain.
Denis yang notabenenya adalah seorang kakak, bekerja paruh waktu setiap hari setelah selesai sekolah sebagai pelayan warung makan yang tidak terlalu besar, dan lanjut lagi sebagai asisten montir disalah satu bengkel yang buka 24 jam yang juga tidak terlalu besar. Karena hal itu lah jam tidur Denis sangat sedikit karena dia pun juga harus belajar atau mengerjakan tugas dari sekolahnya. Pada dasarnya, Denis dan Diana adalah anak yang pintar. Denis biasa memasuki ranking tiga besar di sekolahnya, begitu juga Diana yang selalu masuk rangking lima besar. Tapi karena hanya itu pekerjaan yang dilakukan oleh Denis, penghasilannya itu hanya cukup untuk makan saja, sedangkan dia dan adiknya masih butuh banyak keperluan lain seperti uang sekolah. Kalau uang rumah tidak perlu karena mereka tinggal di rumah orang tua mereka yang satu lagi karena rumah mereka yang dahulu sudah diambil pihak bank karena harus membayar ganti rugi tadi. Rumah mereka pun tidak besar, hanya rumah sederhana tipe 27. Meskipun begitu, mereka sudah sangat bersyukur karena masih diberi kemudahan dalam urusan tempat tinggal.
Pada dua hari sebelum adiknya berulang tahun, Denis dikejutkan dengan Diana yang sudah cengengesan tidak jelas di depan kamarnya.
“Kak Denis, emmm...” Denis yang bingung dengan adiknya ini langsung bertanya
“Iya kenapa Di?” muka sang adik terlihat seperti ingin sesuatu, Denis yang notabenenya adalah kakak yang peka langsung berucap
“Haa kakak tau, kamu pasti mau sesuatu kan? Udah nggak usah cengengesan kayak begitu, jelek tau,” ucap Denis sambil menahan tawa
“Ihh Kak Denis nih, emmm Diana kan dua hari lagi ulang tahun kak, boleh nggak kita rayain bareng-bareng dengan makan kue dan es krim?” Denis yang mendengar itu langsung tertegun hingga ekspresi nya berubah, hanya sedikit karena ia pandai menyembunyikan ekspresinya dan dia tidak ingin menampakkan muka keterkejutannya di hadapan adik tersayangnya itu.
“Emmmm, boleh nggak yaaa?” goda Denis sehingga muka Diana cemberut.
“Kalau nggak boleh yaudah gapapa deh kak,”
“Cieeee ngambek nih sama kakak?” Denis semakin gencar menggoda adiknya
“Ihh Kak Denis nih!!” Diana yang kesal dan cemberut pun langsung memasuki kamarnya dengan sedikit membanting pintu. Diana kesal kakaknya selalu saja menggodanya, padahal ia tidak tahu, kakaknya seperti itu hanya karena ingin melihatnya tersenyum.
“Ihhhhh Kak Denis nyebelin banget sih, kalau nggak mau beliin tuh bilang aja, nggak usah ngegoda aku mulu.” Teriak Diana dari dalam kamar. Mendengar dan melihat hal itu Denis hanya tersenyum simpul.
“Kakak bakal lakuin apa aja buat bahagian kamu Din, karena kakak tahu kamu sebenarnya kesepian kan di rumah terus karena kakak kerja? bahkan kalaupun ngebahagiain kamu kakak harus putus sekolah juga gapapa, supaya kamu bisa kuliah dan bisa jadi pengacara seperti yang kamu mau.” batin Denis.
Besoknya Denis berniat tidak sekolah, karena ia ingin bekerja tambahan supaya ia bisa membeli kue dan es krim seperti yang Diana inginkan.
“Aku harus cari kerja lagi, supaya besok bisa beliin Diana kue sama es krim dan ngasih kejutan buat dia. Pasti dia seneng banget deh.”
Tadi pagi rupanya Diana masih kesal dengan Denis, sehingga ia tidak mau berbicara dengan Denis. Walaupun sedih, Denis harus berusaha supaya adiknya bisa tersenyum lagi. Satu hal yang perlu kalian tahu, hal yang paling dibenci oleh Denis adalah ada orang yang mengganggu atau membuat adiknya bersedih. Ia tidak akan segan-segan untuk memberinya pelajaran. Karena ia sekarang hanya punya Diana, dan ia tidak mau lagi kehilangan orang yang ia sayang sebelum membahagiakannya, cukup orang tuanya saja yang pergi, jangan ada lagi.
Denis berkeliling mencari pekerjaan, ternyata ada salah satu toko bunga yang membutuhkan karyawan hanya untuk satu hari, Denis tersenyum bahagia dan langsung memasuki toko bunga tersebut.
Clingg
Bunyi khas pintu dibuka yang bersentuhan dengan lonceng itu menarik perhatian dari sang empunya toko. Seorang gadis sekitar berumur 22 tahun itu langsung menghampiri Denis.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu dek?” sapa sang pemilik toko bunga dengan ramah.
“Emm saya tidak ingin membeli bunga, saya ingin bertanya apakah lowongan kerja untuk satu hari itu masih ada ya kak? saya ingin melamar, soalnya saya sangat perlu uang tersebut,” jawab Denis sambil tersenyum.
“Ohh begitu, untungnya lowongan tersebut masih ada dek. Kamu langsung kerja sekarang ya, karena saya melihat penampilan kamu sepertinya kamu anak baik, jangan ngecewain saya ya, perkenalkan saya Eliza, panggil aja Kak Za, kalau kamu?” mendengar bahwa ia diterima ia langsung tersenyum lebar, senyum yang sangat manis sehingga si pemilik toko tersebut mamatung seketika.
“Terima kasih banyak Kak za sudah menerima saya di sini, saya akan bekerja semaksimal mungkin. Nama saya Denis Pramudja, panggil saja saya Denis kak.”
“Oke Denis, kamu tahu nama-nama bunga ini kan? Jadi kamu tahu apa yang harus dilakukan? Kalau kamu tidak tahu, ada list bunga apa saja yang ada di toko ini beserta gambarnya dan semua perlengkapan yang kamu butuhkan ada di meja, kamu tinggal ambil di situ saja. Oh iya saya pergi dulu ya, soalnya ada urusan kampus yang harus saya selesaikan.”
“Baik kak, terimakasih.”
Setelah itu Eliza pun keluar dari tokonya. Tapi sebenarnya, dia ingin menguji kejujuran Denis dengan nenaruh beberapa lembar uang bewarna merah muda di meja. Eliza mengintip dari celah yang ia buat khusus untuk menguji para karyawannya apakah jujur atau tidak.
BERSAMBUNG
Andini Priska Putri
0 Comments