![]() |
| Sumber unsplash.com |
“Kenapa sih dosen
suka banget ngasih tugas diskusi? Nggak bisa langsung nugas aja?”
Kalau kamu pernah berpikir begitu, kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa mengeluhkan tugas diskusi sebagai beban tambahan yang ribet. Harus baca materi, harus bales komentar, harus janjian dengan teman satu kelompok. Capek!
Tapi ternyata, di balik kerumitan itu, ada alasan kuat kenapa tugas diskusi menjadi bagian penting dalam proses belajar di perguruan tinggi. Kenapa sih tugas diskusi penting, dan bagaimana seharusnya kita menjalaninya?
Tugas Diskusi Bukan Sekadar Formalitas
Dalam Taksonomi Bloom, sebuah kerangka pendidikan yang sering jadi dasar penyusunan kurikulum, diskusi menempati posisi penting dalam kategori berpikir tingkat tinggi. Ia tidak hanya melatih kita mengingat atau memahami, tapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan argumen baru.
Lewat diskusi, mahasiswa diajak untuk memahami konsep secara lebih dalam, karena harus menjelaskan ulang dengan kata-kata sendiri. Mendengar sudut pandang lain, sehingga tidak terpaku pada satu kebenaran. Melatih komunikasi akademik, yakni menyampaikan ide secara logis dan sopan.
Sayangnya, idealisme ini tidak selalu terjadi di dunia nyata. Banyak tugas diskusi yang berakhir dengan jawaban yang asal-asalan, tanpa membaca bahan. Komentar satu-dua kalimat yang generik dan tidak nyambung. Copy-paste dari internet atau AI, tanpa pemahaman.
Bukan karena mahasiswa malas semata. Kadang soal diskusinya terlalu kabur, tidak menantang, atau tidak relevan dengan realita mereka. Ditambah lagi, banyak mahasiswa yang belum pernah benar-benar diajarkan cara berdiskusi akademik yang baik.
Alhasil, tugas diskusi terasa seperti tugas tambahan yang melelahkan, bukan ruang belajar yang menghidupkan.
Lalu, Harus Gimana?
Agar tugas diskusi benar-benar bermanfaat, baik dosen maupun mahasiswa perlu mengubah pendekatan:
1. Soal Diskusi Harus Memancing Pemikiran
Bukan sekadar “Apa
pendapat kalian?” tapi pertanyaan yang menantang, memantik kontroversi, atau
memaksa mahasiswa menyusun argumen yang tajam. Misalnya:
- “Apakah program subsidi pendidikan saat ini benar-benar tepat sasaran?”
- “Bandingkan dua teori dengan studi kasus di Indonesia. Mana yang lebih relevan dan kenapa?”
Diskusi bukan monolog. Jangan hanya posting lalu pergi. Luangkan waktu untuk membaca jawaban teman, beri tanggapan yang nyambung, bahkan boleh tidak setuju, asal disampaikan dengan alasan.
3. Penilaian Pada Kualitas Argumen
Dosen bisa mulai menilai berdasarkan kedalaman jawaban, ketepatan referensi, dan relevansi komentar. Dengan begitu, mahasiswa akan lebih termotivasi untuk benar-benar berpikir, bukan hanya hadir.
4. Bangun Etika Diskusi Sejak Awal
Misalnya: tidak menyerang pribadi, menghargai pendapat berbeda, dan tidak mendominasi ruang diskusi. Diskusi yang sehat akan menumbuhkan rasa aman untuk menyampaikan ide.
Peran Penting Diskusi
Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk menyaring, mengolah, dan menyampaikan kembali ide secara runtut sangat krusial. Dan diskusi adalah latihan terbaik untuk itu.
Kalau kita bisa mengubah cara pandang terhadap tugas diskusi, bukan sekadar kewajiban, tapi kesempatan untuk melatih berpikir dan berbicara maka kita akan lebih siap menghadapi dunia akademik dan profesional yang penuh debat, negosiasi, dan pertukaran ide.
Karena pada akhirnya,
mahasiswa tidak hanya dinilai dari nilai ujian, tapi dari bagaimana ia berpikir
dan menyampaikan pemikiran itu secara meyakinkan.
Author: Zainal Ilmi

0 Comments