Terkini

Bahasa Gaul vs Bahasa Baku: Mana yang Lebih Membumi di Kalangan Siswa?

Di ruang kelas, koridor sekolah, bahkan grup WhatsApp, bahasa gaul telah menjadi pilihan utama siswa dalam berkomunikasi. Sapaan seperti “bestie”, “cuy”, atau “anjay” jauh lebih sering terdengar dibandingkan “sahabat” atau “teman baik”. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah bahasa gaul benar‐benar lebih membumi di kalangan siswa ketimbang bahasa baku?

Bahasa gaul menawarkan keunikan: spontan, kreatif, dan cepat beradaptasi dengan tren. Menurut Badan Bahasa (2022), penggunaan bahasa gaul di media sosial remaja meningkat pesat karena dianggap lebih ekspresif dan mampu mempererat rasa kebersamaan. Tidak heran jika bahasa gaul tumbuh sebagai ciri khas generasi muda yang ingin tampil berbeda sekaligus akrab dengan lingkungan sekitarnya.

Namun demikian, bahasa gaul tidak selalu tepat digunakan dalam semua situasi. Bayangkan seorang siswa menulis esai Ujian Nasional dengan kalimat: “Bestie gue tuh suka banget makan mie ayam.” Tentu kalimat tersebut akan menurunkan mutu tulisan dan berpengaruh negatif pada penilaian. Di sinilah peran bahasa baku menjadi sangat penting. Dalam ranah pendidikan, penelitian, dan konteks resmi lainnya, bahasa baku menjaga kejelasan pesan sekaligus meminimalkan risiko salah paham.

Di sisi lain, banyak siswa menganggap bahasa baku terlalu kaku dan mengekang kreativitas. Ketika guru menegur, “Gunakan bahasa baku, ya,” tak jarang mereka merasa dibatasi. Padahal, menguasai bahasa baku bukanlah soal mengekang, melainkan menambah kemampuan agar siswa bisa fleksibel: bebas bersenda di suasana santai, namun tetap profesional saat diperlukan.

Dalam praktik sehari‐hari, pergantian kode (code‐switching) menjadi strategi adaptasi yang lumrah. Saat berbincang dengan teman sebaya, bahasa gaul mendominasi. Sebaliknya, mereka beralih ke bahasa baku saat berhadapan dengan guru atau menulis tugas. Sosiolinguistik menjelaskan bahwa pola ini wajar terjadi di masyarakat bilingual maupun multilingual.

Data Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan tantangan literasi remaja Indonesia, terutama dalam memahami teks formal. Jika bahasa gaul dibiarkan mendominasi tanpa pengimbangan, kemampuan menulis dan membaca teks baku bisa menurun. Ini berarti, jika kita terlalu memanjakan bahasa gaul, generasi muda berisiko kehilangan fondasi komunikasi yang efektif.

Sebaliknya, menolak bahasa gaul sama saja dengan menolak kreativitas. Sejarah bahasa Indonesia mencatat banyak istilah serapan yang dulu dianggap "gaul", namun kini telah diterima secara baku. Dengan demikian, bahasa gaul sejatinya menjadi laboratorium inovasi yang bisa menyuburkan kekayaan bahasa nasional.

Kunci utama adalah menyeimbangkan keduanya. Siswa perlu dibimbing untuk memahami kapan penggunaan bahasa gaul yang tepat—misalnya untuk mengekspresikan diri atau membangun keakraban dan kapan mereka harus beralih ke bahasa baku misalnya dalam situasi akademik atau resmi. Guru dan orang tua dapat memberikan contoh nyata dengan berkomunikasi menggunakan bahasa gaul saat suasana santai dan menggunakan bahasa baku dalam rapat, presentasi, atau penulisan formal.

Bahasa gaul memang lebih membumi di kalangan siswa karena sifatnya yang cair dan dekat dengan keseharian mereka. Namun, bahasa baku tetap menjadi fondasi utama yang menjamin kejelasan dan keseriusan komunikasi. Generasi muda ditantang untuk cerdas berbahasa: tahu kapan harus gaul dan kapan harus baku. Sebab, bahasa bukan sekadar alat, tetapi sebagi cerminan budaya dan identitas bangsa.

Oleh : Nadiva Ismi Wardani

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close