Ikan layang ( Decapterus sp ) (kiri) dan salmon ( Salmo sp ) (kanan) (sumber: wikipedia dan Info Gerakan peduli tani Nelayan)
Ikan-ikan populer seperti salmon dan tuna memang memiliki daya tarik tersendiri di Indonesia. Selain rasanya yang lezat, kandungan gizinya juga dikenal baik oleh para ahli. Namun, harga yang tinggi sering kali membuat banyak orang, terutama dari kalangan berpenghasilan rendah dan menengah, berpikir dua kali untuk membelinya. Sebagai perbandingan, harga ikan tuna berkisar antara Rp39.000 hingga Rp95.000 per kg, sementara salmon fillet bisa mencapai Rp28.000 hingga Rp139.000 per 100 gram.
Akibatnya, banyak masyarakat beralih ke sumber protein lain yang lebih ekonomis seperti telur, tahu, dan tempe. Padahal, ada ikan lokal lain yang tidak kalah bergizi dari salmon, bahkan memiliki beberapa keunggulan, yaitu ikan layang.
Ikan layang (Decapterus spp.) termasuk dalam keluarga Carangidae yang tersebar luas di perairan tropis seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun ada sekitar 12 spesies, yang paling umum ditemukan di pasar tradisional adalah ikan layang biru (Decapterus macarrellus) dan ikan layang deles (Decapterus macrosoma).
Harga ikan layang jauh lebih terjangkau dibandingkan salmon. Ikan layang segar biasanya dijual seharga Rp20.000 hingga Rp60.000 per kg, dan di pasar tradisional harganya sering kali hanya sekitar Rp20.000 per kg. Dengan selisih harga yang sangat signifikan, ikan layang menjadi pilihan yang menarik untuk memenuhi kebutuhan gizi harian tanpa menguras kantong.
Secara nutrisi, ikan layang memiliki komposisi yang sangat mengesankan, bahkan jika dibandingkan dengan salmon. Berdasarkan data dari Hicks et al. (2019), berikut adalah perbandingan kandungan gizi per 100 gram berat basah:
Dari segi rasa, ikan layang tidak kalah lezat. Dagingnya tebal dan gurih, sehingga mudah diolah menjadi berbagai hidangan seperti digoreng, dibakar, dimasak kuah, atau dipadukan dengan bumbu balado. Untuk menjaga kandungan nutrisinya, cara pengolahan terbaik adalah dengan direbus atau dikukus.
Di wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, ikan layang sering diolah menjadi masakan kuah kuning menggunakan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan asam atau jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis. Teknik memasak seperti ini tidak hanya menghasilkan hidangan lezat, tetapi juga membantu menjaga nutrisi ikan sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh.
Selain gizi dan harga, ketersediaan ikan layang juga sangat melimpah. Ikan ini mudah didapatkan di Indonesia dan tidak perlu diimpor seperti salmon. Status konservasinya pun berada dalam kategori risiko rendah, yang berarti populasinya di alam masih sangat banyak. Selain layang, beberapa ikan lokal lain yang juga murah dan bergizi tinggi adalah tongkol, kembung, dan teri.
Memilih ikan layang sebagai lauk sehari-hari tidak hanya menguntungkan dari segi biaya dan gizi, tetapi juga secara tidak langsung membantu perekonomian nelayan lokal dan memajukan produk dalam negeri. Dengan kandungan protein, kalsium, zat besi, dan omega 3 yang tinggi, ikan layang menjadi pilihan cerdas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga, terutama bagi tumbuh kembang anak.
Referensi
Domaking, A.B., Ida, A.L.D., dan Norsem, N.M. Aluran pemasaran ikan layang (Decapterus spp) di pasar oesapa kecamatan Kelapa Lima kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pembangunan Perikanan dan Agribisnis. 12(2): 120-131.
Hicks, C.C., P.J. Cohen, N.A.J. Graham, K.L. Nash, E.H. Allison, C. D'Lima, D.J. Mills, M. Roscher, S.H. Thilsted, A.L. Thorne-Lyman dan M.A. MacNeil, 2019. Harnessing global fisheries to tackle micronutrient deficiencies. Nature 574:95-98.
Jurnalis: Muhammad Arul Jalal
0 Comments