![]() |
| Sebuah pemakaman digital, nisan berbentuk ponsel pintar dengan taburan ikon hati merah, simbol dunia di mana manusia akan mati bila tak lagi mengonten dan gagal meraih like. |
Notifikasi
pagi itu hanya berbunyi tiga kali. Ting… ting… ting.
Tiga like. Itu pun dari akun-akun anonim dengan nama mencurigakan: user7891, kucing_lover44, dan open_thewindow. Belakangan aku tahu, ketiganya bot murah dari Rusia.
Bar status hidup di pojok layar menyala merah, tersisa 7%. Seperti baterai ponsel yang sekarat. Bedanya, baterai bisa diisi ulang, sedangkan nyawa, di zaman ini, hanya bisa disambung dengan jumlah like. Aturannya sederhana: siapa yang gagal meraih seratus like dalam 24 jam, tubuhnya akan diputus dari sistem. Mati. Tanpa drama, tanpa upacara. Seolah-olah kita tak pernah lahir.
Sejarahnya sudah sering kudengar. Katanya, semua bermula dua puluh tahun lalu, ketika orang lebih sibuk memperhatikan notifikasi dibanding napas sendiri. Dari situ lahir program Like4Death: sebuah algoritma negara, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan aplikasi raksasa, untuk menghemat populasi dan energi. Prinsipnya sederhana: “Hanya mereka yang relevan yang layak hidup.” Relevan artinya dapat perhatian. Perhatian artinya like. Sesederhana itu.
Awalnya banyak protes, tapi lama-kelamaan semua menerima. Bahkan, sebagian merayakan. Bayi yang baru lahir langsung dibuatkan akun, agar orang tua bisa mengumpulkan like sebagai jaminan hidup. Di sekolah, anak-anak tak lagi mengejar nilai rapor, melainkan jumlah jempol. Kantor pun menilai kinerja karyawan dari interaksi digital mereka. Sementara gereja, masjid, wihara—semua rumah ibadah—mulai melakukan siaran langsung untuk memastikan doa mendapat validasi online.
Dunia ini kini berjalan dengan hukum yang sama: kau hidup selama orang-orang mau menekan tombol hati.
Aku
menatap wajahku di kamera. Remuk. Uban muncul di tepi pelipis, kantung mata
menggantung seperti dua kantong belanjaan yang hampir robek. Kutekan filter
bawaan: kulit jadi mulus, mata jadi besar, pipi bersemu. Aku tersenyum. Wajahku
berubah jadi boneka plastik yang selalu bahagia. Tetapi aku tahu, orang-orang
sekarang lebih suka “keaslian” yang sudah direkayasa. Mereka benci kepalsuan
yang jujur, dan menyembah kejujuran yang palsu.
Dulu
aku pernah jadi raja. Sejuta pengikut. Setiap batukku bisa viral, setiap
tersedakku jadi hiburan. Namaku terkenal karena sebuah video konyol: aku
tersedak mie instan hingga wajah memerah, hampir mati. Orang-orang tertawa
terbahak-bahak sambil menekan tombol hati. Ironisnya, aku hidup panjang hanya
karena orang-orang menikmati kemungkinan kematianku.
Itu dua belas tahun lalu. Sekarang, aku hanyalah lelaki paruh baya yang merangkak di lorong sempit aplikasi, mencari belas kasihan digital.
Eksperimen Pertama: Doa
Aku
memasang kamera, menyalakan live, lalu menengadahkan tangan. Suaraku
dipoles penuh getar, seolah sedang khusyuk.
“Orang
baik jangan lupa tap-tap layar… bersedekahlah kamu like, agar pahala
mengalir, dan aku bisa hidup sehari lagi.”
Komentar
masuk:
“Astagfirullah, ibadah kok
di-live-in.”
“Munafik, dulu joget-joget, sekarang
sok alim.”
“Mirip ustaz abal-abal, suaranya
kayak jualan skincare.”
“Mana dalilnya, pak?”
“Acting doang ini mah.”
Jumlah hati berhenti di angka lima belas—dan itu pun lebih banyak karena seekor kucing lewat di belakangku, menjilat kamera, daripada karena doaku sendiri.
Eksperimen Kedua: Aktivis Instan
Aku
keluar rumah, menyalakan live di jalan. Aku menyorot seorang pemulung,
kuselipkan uang selembar dan aku bacakan caption bijak.
Komentar
masuk:
“Pansos.”
“Settingan, pemulungnya aktor
bayaran.”
“Lebih baik kasih gw duitnya, bro.”
Like: dua puluh. Lagi-lagi bukan karena aku, tapi karena si pemulung tiba-tiba bernyanyi dangdut dengan suara emas.
Eksperimen Ketiga: Filter Bayi
Aku
memasang filter bayi. Wajahku jadi imut, suara jadi cempreng.
Komentar
masuk:
“Ih jijik, tua-tua kelakuannya
begini.”
“Dasar predator, mau nipu bocil.”
“Laporkeun!”
Like:
sembilan. Bahkan ibuku sendiri tidak menekan tombol hati.
Bar status hidup menyusut ke 3%. Waktu tersisa enam jam.
Eksperimen Keempat: Pasar Gelap
Kudengar
ada pasar gelap yang menjual like palsu. Tiga ratus ribu rupiah untuk
seribu hati. Aku tergoda. Kutransfer, kucoba. Videoku diserbu jempol, bar hidup
naik ke 12%. Aku sempat lega.
Namun algoritma lebih cerdas daripada aparat pajak. Sepuluh menit kemudian, semua like dibatalkan sebagai “ilegal”. Hukumannya: bar hidup dipotong drastis. Tinggal 1%. Label merah “RAWAN MATI” menempel di profilku.
Aku
berjalan ke warung. Orang-orang di jalan sibuk dengan live stream. Ada
seorang ibu muda menyiarkan anaknya yang menangis; komentar masuk: “Cute banget,
gemes.” Ada tukang parkir yang sengaja menjatuhkan motor pelanggan lalu
menari di atasnya. Viral seketika. Ada orang jatuh terserempet angkot,
alih-alih ditolong, ia dikerubuti belasan kamera. Darahnya jadi konten. Ia
masih sempat melambaikan tangan minta like sebelum napasnya benar-benar
hilang.
Dunia ini bising, tapi hampa. Semua orang hidup hanya untuk meyakinkan bahwa mereka masih hidup.
Malam
itu aku menyerah.
Kuhidupkan
kamera. Tak ada filter, tak ada musik, tak ada gimmick. Hanya aku dan
wajah letih di depan cahaya dingin.
“Please,”
suaraku parau. “Aku cuma ingin hidup. Apa salahku?”
Jumlah
penonton 70. Lalu 50. Lalu 30. Komentar berseliweran:
“Basi, udah sering ada yang gini.”
“Nggak lucu.”
“Mati aja sekalian, bro.”
Bar
merah tinggal garis tipis. Tubuhku bergetar, jemari basah keringat. Dan entah
kenapa, dalam panik, aku menekan tombol hati di layar sendiri.
Suara
perempuan ramah terdengar:
“Like diterima. Persetujuan eksekusi dikonfirmasi. Terima kasih telah menggunakan Like4Death, layanan validasi terbaik untuk hidup Anda.”
Besok
paginya, dunia meledak. Videoku menyebar ke mana-mana. Semua akun gosip
memajang wajahku. Judul berita:
“Content
Creator Mati LIVE, Demi Like.”
Jumlah
hati membubung: sejuta, dua, tiga juta.
Komentar
berubah jadi doa.
“Tragis, tapi inspiratif.”
“Konten terakhirnya bikin merinding.”
“Respect. #Like4Death.”
Masyarakat
tiba-tiba peduli. Influencer muda yang dulu menertawakan videoku kini
membuat konten reaction penuh air mata. Politisi ikut nimbrung: “Kita
harus belajar dari kisah ini, agar bangsa kita tetap kreatif.” Bahkan
kementerian membuat iklan baru:
“Hiduplah dengan Like, Banggalah Jadi Konten.”
Aku akhirnya kembali jadi trending. Terkenal, diagungkan, dikutip. Ironisnya, aku hanya berhasil mendapatkan semua itu setelah mati.
Konon,
ibuku menatap videoku sambil berkata, “Jadi anakku mati cuma gara-gara jempol?”
Ia masih belum paham kenapa dunia berubah jadi begini.
Tetanggaku
menjawab, “Nggak apa-apa, Bu. Setidaknya sekarang beliau viral.”
Dan mungkin, begitulah akhir yang pantas untuk generasiku: sebuah dunia yang hanya percaya pada kehidupan, ketika ia sudah selesai.
Kini semua berjalan sebagaimana mestinya: kehidupan ditimbang dengan timbangan virtual, nilai manusia ditakar oleh seberapa sering jempol orang lain mau bergerak. Kita hidup di zaman ketika tuntunan menjadi tontonan, dan tontonan diangkat jadi tuntunan.
Apapun bisa dijadikan konten. Kelahiran, kematian, doa, air mata, bahkan tubuh sendiri—disulap jadi komoditas yang diperdagangkan dengan murah di etalase layar. Maka jangan heran, jika suatu saat nanti, tak ada lagi perbedaan antara mimbar dan panggung live stream, antara doa dan iklan sabun cuci muka, antara cinta tulus dan paket “gift diamond” yang bisa dikembalikan.
Sebab di dunia saat ini, manusia tidak benar-benar hidup untuk hidup—kita hanya hidup untuk ditonton.
Penulis:
Agus Nur Mahdi

0 Comments