| Kampus Stikes Ganesha Husada Kediri (Sumber: Google) |
Kediri, Jawa Timur – Dugaan pelanggaran serius dalam pengelolaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah kembali mencoreng dunia pendidikan tinggi di Jawa Timur. Kali ini, dugaan pungutan liar (pungli) menimpa mahasiswa penerima KIP Kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Ganesha Husada Kediri. Mahasiswa di kampus tersebut dikabarkan diminta membayar uang tambahan hingga mencapai hampir Rp 3 juta setiap semesternya, yang langsung ditransfer ke rekening kampus setelah dana biaya hidup KIP masuk ke rekening mahasiswa.
Pungutan ini diduga dilakukan secara terstruktur, dengan total biaya yang harus dibayarkan mencapai Rp 6.940.000 per semester. Menurut pengakuan narasumber yang enggan disebutkan namanya, pungutan tersebut digunakan untuk menutupi kekurangan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya praktik setelah dipotong dana KIP senilai Rp 4.000.000. "Per semester Rp. 6.940.000, sudah dipotong dari KIP kan Rp. 4.000.000 nah, untuk kekurangan itu tetap harus dibayarkan," ujar narasumber.
Ironisnya, meski telah membayar kekurangan yang diklaim menutupi biaya praktik, narasumber juga menyebutkan bahwa mahasiswa harus membayar lagi ketika menjalani praktik. Biaya tambahan praktik ini bahkan muncul sebagai tagihan terpisah di Sistem Informasi Akademik (Siakad) mahasiswa.
Dugaan pelanggaran ini ditutupi oleh pihak kampus dengan sangat rapi. Narasumber mengungkapkan bahwa beberapa kali pernah diadakan monitoring dan evaluasi (Monev). Menjelang pelaksanaan Monev dari pihak terkait, mahasiswa dikumpulkan oleh kampus. Pertemuan tersebut bertujuan memberikan pengarahan agar mahasiswa menutupi dugaan pelanggaran yang terjadi.
Lebih lanjut, dalam pengarahan tersebut, mahasiswa juga dipaksa menandatangani surat pernyataan yang isinya kurang lebih mematuhi semua aturan kampus, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Narasumber mengaku dilarang membawa telepon genggam saat pertemuan sehingga detail isi pernyataan tidak dapat didokumentasikan. Hal ini menimbulkan kesan bahwa Stikes Ganesha Husada Kediri terbilang "profesional" dalam menyembunyikan dugaan pelanggaran pengelolaan dana bantuan pendidikan dari pemerintah tersebut.
(Red)
0 Comments