Terkini

Di Balik Seragam Palsu: Saat Gengsi dan Ekspektasi Orang Tua Menjadi Beban Tak Tertanggung

Ilustrasi

Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh kisah seorang wanita yang nekat menyamar menjadi pramugari di sebuah maskapai ternama di Indonesia. Wanita tersebut menyamar dengan menggunakan seragam yang menyerupai pramugari salah satu maskapai di Indonesia, bahkan wanita tersebut juga menggunakan name tag palsu petugas maskapai. Penyamaran ini langsung saja ditindaklanjuti oleh petugas saat wanita tersebut terciduk bukan bagian dari petugas maskapai.

Namun di tengah penyamaran yang dilakukan, ada motif mengharukan serta mengherankan dibalik tindakan tersebut. Beliau mengaku bahwa tujuan melakukan ini dalam rangka ingin menyenangkan kedua orang tuanya dan tidak ingin membuat mereka kecewa karena kegagalannya menjadi pramugari. Hal ini didasari bahwa wanita tersebut pernah mendaftar untuk menjadi pramugari dengan membayar sejumlah uang melalui oknum tidak dikenal, namun ternyata saat sudah membayar oknum tersebut menghilang dan tidak bisa dihubungi.

Kisah ini membuktikan bahwa beban ekspektasi sering kali menjadi tekanan pikiran dan menciptakan pola pikir keliru. Di tengah masyarakat yang masih memandang profesi tertentu sebagai simbol keberhasilan, kegagalan sering kali dianggap aib dan bukan bagian dari pembelajaran perjalanan hidup. Tekanan inilah menjadi dasar pola pikir keliru yang menganggap bahwa keberhasilan harus tampak di mata orang lain, sehingga pola pikir ini bisa membuat seseorang rela melakukan apapun agar terlihat berhasil meskipun kenyataannya dibaliknya penuh dengan kepalsuan.

Dalam konteks psikologis, hal tersebut biasa disebut gengsi. Gengsi adalah perasaan ingin dihargai dan dilihat lebih baik oleh orang lain, bahkan jika harus mengorbankan kenyamanan, kejujuran, atau kondisi nyata yang sedang dialami. Gengsi merupakan salah satu fenomena psikologis yang wajar dalam diri manusia, namun jika gengsi tersebut terlalu berlebihan justru malah dapat menciptakan masalah kesehatan mental. Gengsi adalah hal yang berkaitan erat dengan harga diri seseorang (self-esteem), jika tidak berlebihan hal ini justru dapat memotivasi diri menjadi lebih baik.

Jika simbol keberhasilan terus diukur dari apa yang dinilai dan tampak di mata orang lain, maka tidak mengeherankan bila banyak orang merasa gagal meski telah berjuang sejauh mungkin. Padahal, keberhasilan bukan hanya sekedar seragam yang digunakan, status yang didapatkan, atau besaran kekayaan yang dimiliki. Namun keberhasilan dapat dimaknai secara sederhana dan jujur, yaitu ketika seseorang mampu menjalani apa yang ia lakukan atas pilihannya dengan rasa nyaman, tanpa harus menyembunyikan kenyataan demi memenuhi ekspetasi orang lain.

Mungkin sudah saatnya masyarakat berhenti memaknai keberhasilan sebagai sesuatu yang harus dipertontonkan. Keberhasilan tidak selalu lahir dari sorotan dan pengakuan, melainkan rasa tenang dan nyaman ketika sesorang menjalanni pilihannya dengan jujur. Dan kegagalan bukanlah sebuah hal yang memalukan, namun sebuah bagian dari pembelajaran perjalanan hidup agar dapat menjadi lebih baik lagi.

Author: Muhammad Azmi

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close