Pada
tahun 2025, merupakan tahun dimana Muhammad Azmi seorang yang saat ini sebagai
Jurnalis Bidikin.com lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada tahun
tersebut sempat menjadi tahun terberat, dimana tiga kali mengikuti seleksi
Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan tiga kali pula tidak tercantum di daftar
kelulusan. SNBP, SPAN-PTKIN, dan SNBT berakhir dengan hasil yang sama yaitu
penolakan. Di tengah keterbatasan latar belakang ekonomi keluarga, yang membuat
jalur mandiri bukan pilihan realistis untuk diikuti.
Kegagalan
itu sempat membuat Azmi putus asa, bahkan kepikiran untuk tidak melanjutkan ke
perguruan tinggi atau perkuliahan. Di tengah perasaan putus asa itu, ia mendapatkan
support dari orang tua dan kakak untuk selalu semangat dan mencoba jalur lain.
Di saat itu kakaknya menunjukan seleksi masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam
Negeri (PTKIN) yang masih buka pendaftaran dengan tipe seleksi yaitu ujian
tulis berbasis komputer hampir mirip seperti SNBT.
Dengan
adanya peluang di jalur seleksi PTN lain membuat Azmi kembali bersemangat dan
belajar lebih giat kembali untuk ujian tersebut. Di tengah belajar untuk ujian
tersebut, ia mendapatkan informasi dari orang tuanya mengenai berkuliah di
kampus swasta yaitu Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT NF)
dengan beasiswa full funded dari Kholid Academy. Tentu mendengar hal tersebut membuatnya
sangat bersemangat karena memiliki 2 peluang untuk masuk ke perguruan tinggi.
Untuk
mencapai beasiswa di kampus swasta tersebut harus melewati berbagai seleksi,
mulai dari seleksi tes untuk masuk kampusnya terlebih dahulu baru kemudian
seleksi lanjutan untuk mendapatkan beasiswa full funded tersebut. Dengan kabar
kedua jalur seleksi perguruan tinggi yang terhitung singkat ini, membuat Azmi
harus belajar lebih extra dikarenakan harus mengikuti ujian di waktu yang
terhitung saling berdekatan.
Belajar
dari kesalahan sebelumnya yaitu kurang giat dalam belajar dan menggunakan
motode belajar yang tidak sesuai saat ingin mengikuti SNBT. Hal ini membuat Azmi
untuk memahami diri terlebih dahulu kemudian memilih motede belajar yang sesuai
dengan dirinya. Dengan belajar lebih giat dan menggunakan metode belajar yang
sesuai membuatnya dapat belajar lebih maksimal dan lebih paham terhadap materi
penjelasan.
Kemudian
pengumuman seleksi kampus swasta lebih dahulu keluar daripada pengumuman
UM-PTKIN. Melihat pengumuman yang menyatakan lolos di kampus swasta tidak
membuat Azmi senang semata, tujuan daftar disini adalah untuk mendapatkan
beasiswa full funded dikarenakan jika tanpa beasiswa tersebut untuk berkuliah
di kampus swasta merupakan hal yang sulit berdasarkan latar belakang ekonomi
keluarganya.
Di
sela menunggu pengumuman UM-PTKIN, Azmi sekalian belajar untuk tahapan seleksi
beasiswa selanjutnya. Ia mengikuti rangkaian tahapan seleksi baik dari
pengumpulan dokumen, pengisian kuisoner, hingga wawancara yang dilakukan dengan
perssiapan yang baik dan matang. Setelah mengikuti semua tahapan seleksi di
beasiswa Kholid Academy dengan baik, ia tinggal menunggu pengumuman beasiswa
tersebut.
Setelah
sekian kali penolakan seleksi perguruan tinggi negeri, pada akhirnya saat
pengumuman UM-PTKIN menyatakan bahwa Azmi lolos di kampus UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dengan Program Studi Perbankan Syariah. Hal ini membuat ia
sangat senang dan segera untuk melakukan registrasi ulang ke kampus. Namun di
tengah menyiapkan dokumen registrasi ulang, dia juga mendapatkan informasi
menyenangkan bahwa ia lolos beasiswa Kholid Academy yang dibiayai full funded
di kampus swasta STT-NF.
Mendengar
kabar ini membuat Azmi bimbang terhadap dua pilihan yaitu, melepas kampus PTN
dan memilih kampus swasta yang sudah dibiayai full funded atau sebaliknya. Ditengah
ke bimbangan tersebut, ia mendapatkan informasi mengenai beasiswa di kampus yang
relevan dengan PTN yang menerima ia. Informasi beasiswa tersebut langsung berupa
3 jalur beasiswa yang berbeda dan ke semuaya masing-masing di biayai full
funded.
Kebimbangan
ini justru semakin besar dikarenakan Azmi harus memilih kampus yang sudah
menerima dia sebagai beasiswa full funded namun berasal dari kampus swasta,
atau kampus yang berasal dari PTN namun harus melewati seleksi beasiswa
terlebih dahulu untuk mendapatkan pembiayaan penuh selama kuliah. Dengan
peluang 3 beasiswa di kampus PTN, pada akhirnya ia lebih memilih untuk berjuang
kembali merebut beasiswa di kampus PTN.
Dengan
pengalaman keterima beasiswa sebelumnya, membuat Azmi lebih siap terhadap
tahapan-tahapan seleksi yang ada dalam menggapai beasiswa lain. Dengan
persiapan yang matang membuat ia percaya diri untuk memaksimalkan ke semua
tahapan seleksi beasiswa. Dari peluang 3 beaasiswa di kampus PTN ini, akhirnnya
membuah hasil yang cukup baik dimana ia lolos 2 beasiswa dari 3 beasiswa yang
di jalaninya.
Dari
2 beasiswa yang lolos, Azmi tetap harus hanya memilih 1 beasiswa yang akan membiayai nya full funded selama berkuliah 4
tahun. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia memilih Beasiswa Zakat
Indonesia 2025 (BeZakat 2025) yang di selenggarakan oleh Kementrian Agama RI
yang berkerjasama dengan 18 LAZ skala nasional.
Dari
semua pengalaman Azmi dalam menggapai pendidikan lanjutan di perguruan tinggi,
membuat ia dapat memberikan pesan pengalaman kepada rekan-rekan yang akan menggapai
pengguruan tinggi juga. Dari seleuruh proses menggapai perguruan tinggi yang di
alami Azmi, ia belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Penolakan
justru menjadi ruang untuk memahami diri, memperbaiki strategi, dan membuka
peluang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Pengalaman
ini juga menegaskan bahwa ikhtiar tidak selalu berbuah sesuai rencana manusia.
Namun, ketika usaha telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, selalu ada jalan
lain yang disiapkan. Dalam setiap proses itu, ada hikmah yang menunggu untuk
dipahami bagi mereka yang tidak berhenti berusaha dan tetap bertawakal.
Author: Muhammad Azmi

0 Comments