![]() |
| Ilustrasi |
Media sosial belakangan ini kembali gaduh, dikarenakan sebuah pernyataan singkat dari pasangan muda di platfrom media sosial tiktok dengan username “yuka_san__” yang menyebutkan bahwa “kuliah itu scam”. Seorang pasangan muda yang wanitanya menikah di usia 19 tahun dengan lelakinya yang usianya sudah 29 tahun tersebut memicu gelombang emosi publik. Dari statement pasangan tersebut justru dipenuhi berupa hujatan dan perbandingan prestasi dari para netizen, yang menilai bahwa pernyataan tersebut sangat subjektif dan tidak mempertimbangan kesempatan atau privilege orang berbeda-beda.
Namun menariknya, pernyataan serupa sebenarnya pernah disampaikan oleh publik figur yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Hal tersebut pernah disampaikan oleh Timoty Ronald, seorang trader dan pengusaha muda yang dikenal sukses di dunia crypto. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Timoty ini hampir sama persis dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh pasangan muda sebelumnya. Namun pernyataan Timoty ini malah cenderung mendapatkan dukungan dari publik, meskipun ada beberapa pihak terutama akademisi yang masih mengkritisi pernyataan tersebut.
Fenomena ini meninggalkan sebuah pertanyaan besar, mengenai cara masyarakat menilai sebuah gagasan di ruang publik. Apakah sebuah pernyataan dianggap valid karena dasar argumennya, atau karena status sosial orang yang mengatakannya? Reaksi yang berbeda terhadap pernyataan yang sama tetapi berbeda dari yang mengatakannya, menunjukkan bahwa sebuah pesan akan lebih dipandang dan dihargai jika memiliki latar belakang yang lebih baik.
Kecenderungan masyarakat untuk memvalidasi “kuliah itu scam” hanya ketika diucapkan oleh figur sukses, menunjukan adanya authority bias atau dalam bahasa Indonesia adalah bias otoritas. Bias otoritas adalah kecenderungan psikologis untuk terlalu percaya dan mematuhi pendapat, saran, atau instruksi dari figur otoritas (dalam hal ini adalah sebuah figur sukses) tanpa mempertanyakan atau mengevaluasi isinya secara kritis karena status atau posisinya dianggap lebih kredibel.
Seseorang yang memiliki kekayaan, prestasi, atau pengaruh akan dianggap sebagai figur otoritas yang suaranya seolah lebih layak didengar daripada seorang yang tidak dianggap sebagai figur otoritas, meskipun hal yang disampaikan sama ataupun berkaitan. Hal ini menyebabkan masyarakat cenderung langsung menerima dan mendukung narasi mentah-mentah seperti “kuliah itu scam” dari sosok sukses, namun akan langsung mengkritisi narasi yang sama tapi diucapkan oleh figur biasa.
Kondisi ini mencerminkan bagaimana budaya dalam masyarakat menangani sebuah pendapat publik masih berlandaskan dengan memandang latar belakang yang memberi pendapat. Akibatnya, diskusi publik kehilangan ruang kritisnya, karena argumen tidak lagi dinilai berdasarkan konteks dan nalar, melainkan disaring melalui identitas dan pencapaian pembicaranya.
Reaksi yang timpang terhadap pernyataan yang sama menunjukan bahwa ruang publik belum sepenuhnya adil dalam mendengarkan gagasan. Fenomena perdebatan “kuliah itu scam” ini merupakan pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dalam memproses informasi di ruang publik. Keberadaan authority bias memang secara alami membuat kita lebih mudah percaya pada mereka yang sudah berada di puncak kesuksesan, namun bukan berarti kita harus menanggalkan nalar kritis.
Validitas sebuah gagasan seharusnya diuji melalui kedalaman argumen dan data, bukan sekadar dari latar belakang sosial atau kekayaan pengucapnya. Dengan mulai menilai pesan berdasarkan isinya ketimbang siapa penyampainya, kita dapat terhindar dari pemahaman yang keliru dan mampu melihat pendidikan serta kesuksesan dalam perspektif yang lebih luas dan objektif.
Jurnalis: Muhammad Azmi

0 Comments