Terkini

Saat Kekuasaan Merasa Berhak Menghakimi Segala Hal: Sebuah Penghakiman Penjual Es Gabus

Ilustrasi

Media sosial kali ini, kembali dikejutkan dengan sebuah berita mengenai tindakan intervensi aparat di Indonesia yang melakukan tindakan penertiban secara sepihak kepada penjual es gabus. Tindakan tersebut bermula dikarenakan adanya laporan dari warga mengenai makanan yang diduga berbahaya berupa es gabus. Menindaki laporan tersebut, aparat keamanan kemudian mendatangi sebuah penjual es gabus yang diduga menjual makanan berbahaya tersebut.

Dalam proses penertiban yang dilakukan oleh aparat kemanaan, dugaan es gabus mengandung bahan makanan berbahaya langsung dibenarkan secara sepihak oleh aparat keamanan. Hal ini hingga berujung tindakan intervensi aparat keamanan kepada penjual es gabus, dengan tuduhan bahwa es gabus yang dijual pedagang tersebut terbuat dari bahan spons dan tak layak konsumsi.

Tindakan intervensi aparat keamanan tersebut tersebar sangat cepat di media sosial, netizen banyak yang menyayangkan tindakan yang dilakukan aparat. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut terlalu berlebihan dan di luar tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sebagai aparat keamanan. Kemudian hal ini ditindaklanjuti dengan pengecekan secara laboratorium oleh tenaga ahli mengenai makanan es gabus yang diduga berbahaya tersebut. Setelah melakukan uji laboratorium yang dilakukan oleh tenaga ahli, makanan es gabus yang dijual pedagang tersebut dinyatakan aman dan layak dikonsumsi.

Kejadian ini jika dipandang dalam psikologis cukup menarik, khususnya mengenai psychology of power yang dirasakan oleh aparat keamanan. Psychology of power ini didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh merasa memiliki hak untuk menilai, mengambil keputusan, serta memperlakukan pihak lain agar sesuai dengan kemauan atau pola pikir mereka. Beberapa kajian psikologi menunjukan bahwa kekuasaan dapat membawa dampak neurokognitif, salah satunya adalah menurunya empati terhadap pihak yang berada dalam kekuasan yang lebih rendah.

Fenomena psikologis ini dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan oleh aparat keamanan kepada penjual es gabus, tindakan intervensi secara sepihak menunjukan bahwa kekuasan yang dimiliki tersebut malah disalahgunakan dan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Tuduhan tidak berdasar yang diklaim oleh pihak aparat keamanan menandakan bahwa sebuah kekuasan dapat mengubah seseorang untuk bertindak lebih bebas tanpa mempertimbangkan sebuah empati sosial terhadap pihak yang dibawah kekuasaanya dan fakta yang harus terverifikasi terlebih dahulu.

Dalam konteks Psychology of power, kekuasaan tidak hanya memberikan kewenangan khusus untuk bertindak, tetapi dapat mengubah pola pikir cara pandang dan seseorang terhadap pihak lain yang lebih rendah kuasanya. Bentuk kekuasaan sangat beraneka ragam dan dapat dalam berbagai bentuk, kekuasaan dinilai sebagai konsep sumber daya dalam bentuk apapun yang dapat mempengaruhi seseorang agar sesuai dengan kehendak pemilik sumber daya.

Kekuasaan bukanlah hal yang jahat dan harus dinilai buruk, dengan kekuasan yang digunakan secara tepat justru dapat membentuk lingkungan yang adil, damai, dan tertib. Hal ini dikarenakan jika pemegang kuasa menggunakannya dengan tepat, baik, dan berorientasi keadilan, maka keputusan yang dikeluarkan oleh pemegang kuasa dapat diterima dengan baik oleh pihak yang tidak berkuasa tanpa adanya paksaan.

Maka dari itu, yang salah bukanlah bentuk kekuasaan yang dimiliki, namun penyalahgunaan kekuasaan yang diluar fungsinya. Kekuasaan dapat merubah diri seseorang dalam memandang pihak lain, sehingga kekuasaan harus dikontrol dengan baik agar tidak menjatuhkan harga diri pihak lain yang tidak bersalah. Ketika kekuasaan digunakan dengan tepat, baik, dan sesuai fungsinya, justru dapat membentuk lingkungan yang adil, damai dan tertib.

Author: Muhammad Azmi

 

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close