Terkini

Sekolah Menuju Fitrah: Marhaban ya Ramadhan

foto: dok.fauzy fathurrohman/bidikin.com
Oleh : Fauzy Fathurrohman

BIDIKIN.COM – Setiap kali bulan Ramadhan datang, rasanya seperti dapat kesempatan buat “restart” hidup. Setelah sebelas bulan sibuk dengan rutinitas, kerjaan, tugas, target, dan segala drama duniawi, tiba-tiba kita dihadapkan pada satu bulan yang vibes-nya beda banget. Lebih tenang, lebih syahdu, dan entah kenapa hati jadi lebih gampang tersentuh.

Ramadhan bukan cuma soal nahan lapar dan haus. Lebih dari itu, ini adalah momen pulang. Pulang ke versi diri yang lebih jujur, lebih bersih, dan lebih sadar tujuan hidup. Ibaratnya, kita lagi diajak “sekolah” lagi. Sekolah menuju fitrah. Tempat kita belajar ulang tentang sabar, ikhlas, disiplin, dan cinta kepada Allah.

Apa Itu “Sekolah Menuju Fitrah”?

Fitrah itu kondisi asli manusia—bersih, lurus, dan punya kecenderungan untuk berbuat baik. Tapi dalam perjalanan hidup, kadang fitrah itu ketutup sama ego, ambisi berlebihan, rasa iri, overthinking, atau bahkan kebiasaan buruk yang pelan-pelan jadi normal.

Nah, Ramadhan hadir seperti ruang kelas khusus. Di “sekolah” ini, kurikulumnya simpel tapi dalam: puasa, shalat, tilawah, sedekah, dan menahan diri. Semua ibadah itu bukan cuma ritual, tapi latihan karakter.

Puasa, misalnya. Dari luar terlihat cuma nggak makan dan nggak minum. Tapi di balik itu, kita lagi dilatih buat ngontrol diri. Nggak semua yang kita mau harus langsung dituruti. Nggak semua emosi harus diluapkan. Di situ kita belajar jadi manusia yang lebih matang.

Ramadhan dan Upgrade Diri

Kalau dipikir-pikir, Ramadhan itu seperti program upgrade tahunan. Kita diminta memperbaiki “software” hati yang mungkin mulai lemot atau error. Yang tadinya gampang marah, jadi belajar lebih sabar. Yang tadinya pelit waktu dan harta, jadi lebih ringan berbagi.

Shalat tarawih ngajarin kita konsisten. Tilawah ngajarin kita buat dekat lagi sama Al-Qur’an, bukan cuma sebagai pajangan, tapi sebagai petunjuk hidup. Sedekah bikin kita sadar bahwa rezeki itu bukan cuma untuk dinikmati sendiri.

Di sekolah biasa, ada ujian di akhir semester. Di Ramadhan juga ada. Bedanya, ujiannya bukan soal pilihan ganda, tapi soal perubahan. Apakah setelah sebulan ini kita jadi pribadi yang lebih baik? Atau cuma sekadar lewat tanpa makna?

Balik ke Fitrah Itu Proses

Sering kali kita ngerasa belum cukup baik buat berubah. Ngerasa dosa kebanyakan, ibadah masih bolong-bolong, hati masih suka naik turun. Tapi justru Ramadhan datang bukan untuk menuntut kita jadi sempurna, melainkan untuk mulai melangkah.

Sekolah menuju fitrah bukan tentang siapa yang paling rajin upload kajian, siapa yang paling panjang tilawahnya, atau siapa yang paling sering bagi-bagi takjil. Ini tentang perjalanan personal. Tentang dialog sunyi antara kita dan Allah.

Kadang momen paling berharga justru saat kita duduk sendiri setelah tarawih, lalu mikir, “Selama ini aku sudah jadi apa?” Dari situ muncul kesadaran. Dan dari kesadaran, lahir perubahan.

Jangan Cuma Ramadhan-Mode

Tantangan terbesarnya bukan saat menjalani Ramadhan, tapi setelahnya. Banyak dari kita yang “on fire” selama sebulan, tapi drop begitu Syawal datang. Padahal tujuan sekolah ini bukan cuma lulus sebulan, tapi membawa ilmunya ke sebelas bulan berikutnya.

Kalau di Ramadhan kita bisa bangun lebih awal untuk sahur dan tahajud, berarti sebenarnya kita mampu. Kalau di Ramadhan kita bisa jaga lisan dari gibah, berarti sebenarnya kita juga bisa di luar bulan itu. Artinya, potensi kembali ke fitrah itu selalu ada.

Ramadhan cuma jadi pemicu. Selebihnya, konsistensi kita yang menentukan.

Marhaban ya Ramadhan

“Marhaban ya Ramadhan” bukan sekadar ucapan selamat datang. Itu adalah pernyataan kesiapan. Siap belajar lagi. Siap dibentuk lagi. Siap dibersihkan lagi.

Semoga Ramadhan kali ini bukan cuma lewat sebagai tradisi tahunan, tapi benar-benar jadi momentum sekolah menuju fitrah. Supaya ketika bulan ini pergi, ia meninggalkan bekas. Bukan cuma kenangan buka puasa bareng, tapi hati yang lebih hidup dan jiwa yang lebih dekat dengan Rabb-nya.

Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar jadi manusia sukses, tapi jadi manusia yang kembali pada fitrahnya.

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close