Morowali – Pelantikan pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Morowali periode 2026–2031 yang digelar pada 14 Februari 2026 lalu sempat menjadi perhatian publik. Momen tersebut bahkan dihadiri berbagai tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan perwakilan paguyuban yang berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan energi serta kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Saat pelantikan, berbagai harapan disampaikan agar KKSS menjadi organisasi yang tidak hanya mempererat silaturahmi warga Sulawesi Selatan di Morowali, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang sosial, budaya, pendidikan, hingga pembangunan daerah.
Namun memasuki pertengahan tahun 2026, mulai muncul pertanyaan dari sebagian masyarakat dan warga KKSS sendiri: apa kabar KKSS Morowali?
Beberapa bulan setelah pelantikan, publik belum banyak melihat aktivitas organisasi yang terekspos secara luas. Rapat kerja yang seharusnya menjadi dasar penyusunan dan pelaksanaan program organisasi belum terdengar gaungnya di ruang publik. Begitu pula sejumlah agenda yang sebelumnya sempat menjadi harapan warga, termasuk gagasan pembangunan rumah adat sebagai simbol kebersamaan dan identitas budaya, belum menunjukkan perkembangan yang terlihat oleh masyarakat.
Kondisi tersebut memunculkan beragam persepsi. Ada yang menilai kepengurusan baru masih dalam tahap konsolidasi internal, ada pula yang mulai mempertanyakan arah dan prioritas organisasi ke depan.
Sebagai salah satu organisasi paguyuban terbesar di Morowali, KKSS tentu memiliki potensi besar. Banyak tokoh, profesional, birokrat, pengusaha, akademisi, hingga generasi muda yang berada di dalamnya. Karena itu, ekspektasi masyarakat terhadap organisasi ini juga cukup tinggi.
Di tengah dinamika pembangunan Morowali yang terus bergerak, keberadaan organisasi paguyuban dinilai penting sebagai wadah pemersatu, penguatan nilai budaya, serta mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.
Pertanyaan yang kini mengemuka bukanlah soal ada atau tidaknya organisasi tersebut, melainkan sejauh mana organisasi mampu menunjukkan peran dan keberadaannya di tengah masyarakat.
Apakah KKSS sedang menyusun program besar yang belum dipublikasikan? Apakah masih berada dalam tahap konsolidasi kepengurusan? Ataukah memang diperlukan evaluasi dan percepatan langkah agar organisasi kembali terlihat aktif di ruang publik?
Publik tentu menunggu jawaban tersebut melalui karya, program, dan aktivitas nyata.
0 Comments