Saya Muhammad Fawzi, berasal dari Prambanan, Klaten. Saya tumbuh dari keluarga petani. Sejak kecil, saya terbiasa melihat orang tua bekerja keras dengan segala keterbatasan yang ada. Dari keluarga sederhana itulah saya belajar bahwa untuk mencapai sesuatu dibutuhkan kemauan, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba
Saya menyelesaikan pendidikan di SMK Tunggal Cipta Manisrenggo, jurusan Teknik Pemesinan. Sejak duduk di bangku SMK, saya mulai mengenal dunia teknik dan memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, bagi saya yang berasal dari keluarga petani, melanjutkan kuliah bukanlah sesuatu yang mudah. Keinginan untuk kuliah ada, tetapi persoalan biaya menjadi salah satu hal yang harus saya pikirkan.
Pada tahun 2014, saya mendapatkan kesempatan menjadi penerima Beasiswa Bidikmisi dan melanjutkan pendidikan S1 Pendidikan Teknik Mesin di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Bagi saya, Bidikmisi bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Bidikmisi adalah kesempatan yang membuka pintu bagi saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Saat itu saya mungkin belum membayangkan sejauh apa kesempatan tersebut akan membawa saya. Saya hanya tahu bahwa saya mendapatkan kesempatan untuk kuliah, dan kesempatan itu harus saya jalani dengan sungguh-sungguh.
Hari ini, ketika saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya semakin menyadari bahwa keputusan dan kebijakan memberikan akses pendidikan kepada mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dapat memberikan dampak yang panjang. Saya adalah salah satu contoh kecil dari perjalanan tersebut.
Dari seorang siswa SMK di Prambanan, saya mendapatkan kesempatan menjadi mahasiswa UNY.
Selama menjadi mahasiswa, saya tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik. Saya juga aktif dalam kegiatan organisasi himpunan mahasiswa mesin dan kegiatan keislaman. Dari berbagai kegiatan tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman dalam berkomunikasi, bekerja sama, bertanggung jawab, dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Saya juga mulai mendapatkan pengalaman yang mempertemukan saya dengan dunia pendidikan dan industri. Dalam kegiatan praktik kependidikan, saya melaksanakan praktik mengajar di SMKN 2 Klaten, Jurusan Teknik Pemesinan. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa menjadi guru SMK bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membimbing siswa agar memiliki keterampilan dan kesiapan untuk menghadapi dunia kerja.
Selain pengalaman di sekolah, saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia industri. Saya menjalani magang selama dua bulan di BATAN Bandung. Setelah itu, saya memperoleh kesempatan mengikuti pengalaman industri di Gunma, Jepang, selama satu tahun pada bidang metal coating atau plating.
Pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran bagi saya. Saya belajar mengenai disiplin kerja, kualitas, tanggung jawab, dan pentingnya kompetensi dalam dunia industri. Pengalaman bekerja di lingkungan industri juga semakin memperluas pandangan saya mengenai keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang lulusan pendidikan vokasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan lulus dari UNY pada tahun 2019, saya mulai menjalani profesi sebagai guru. Saya pernah menjadi guru honorer di SMKN 1 Cileungsi dan SMK Darma Bakti Bogor.
Menjadi guru honorer menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Di sana saya belajar bahwa menjadi pendidik membutuhkan kesabaran, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar. Saya semakin yakin bahwa dunia pendidikan, khususnya pendidikan vokasi, adalah bidang yang ingin saya tekuni.
Hingga akhirnya, saya mendapatkan kesempatan menjadi ASN tahun 2020 dan ditugaskan sebagai guru Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur di SMKN 1 Karawang.
Bagi saya, menjadi guru SMK berarti harus terus mengikuti perkembangan dunia industri. Teknologi berkembang dengan cepat dan kebutuhan kompetensi di dunia kerja juga terus berubah. Karena itu, saya berusaha untuk tidak berhenti belajar meskipun sudah menjadi guru.
Selama menjalankan tugas sebagai pendidik, saya aktif mengikuti berbagai pelatihan pengembangan kompetensi, mulai dari Pengelasan, CNC, CAD, Pemesinan, Robot Welding, hingga Alat Berat. Saya ingin kompetensi dan pengalaman yang saya miliki dapat terus berkembang sehingga apa yang saya ajarkan kepada siswa tidak hanya berdasarkan teori, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia industri.
Pada tahun 2021 sampai 2024, saya dipercaya menjalankan tugas sebagai Kepala Bengkel. Tanggung jawab tersebut memberikan pengalaman baru bagi saya, terutama dalam mengelola kegiatan praktik, fasilitas bengkel, serta mendukung proses pembelajaran siswa agar berjalan dengan baik.
Namun, bagi saya, perjalanan belajar belum selesai.
Pada tahun 2025, saya kembali ke Universitas Negeri Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan S2 Pendidikan Teknik Mesin melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Setelah beberapa tahun menjalani profesi sebagai guru dan mendapatkan pengalaman di dunia industri, saya kembali menjadi mahasiswa dengan membawa pengalaman yang berbeda.
Kali ini, saya tidak hanya belajar dari buku dan ruang kuliah, tetapi juga mencoba menghubungkan pengalaman di sekolah dengan perkembangan dunia industri. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa pendidikan vokasi memiliki tantangan yang besar sekaligus peluang yang luas untuk terus dikembangkan.
Pada Agustus 2026, saya menyelesaikan pendidikan S2 Pendidikan Teknik Mesin di UNY.
Ketika melihat kembali perjalanan saya dari tahun 2014 hingga hari ini, ada satu hal yang selalu saya ingat: perjalanan ini dimulai dari sebuah kesempatan.
Kesempatan yang saya dapatkan melalui Bidikmisi.
Saya adalah bagian dari generasi penerima Bidikmisi yang kemudian melanjutkan perjalanan di tengah perubahan dan perkembangan program bantuan pendidikan tinggi. Apa yang dahulu saya kenal sebagai Bidikmisi kini telah berkembang menjadi KIP Kuliah.
Bagi saya, perubahan nama dari Bidikmisi menjadi KIP Kuliah bukan sekadar perubahan istilah. Di balik perubahan tersebut terdapat semangat yang sama, yaitu membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang memiliki potensi dan kemauan untuk belajar, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
Saya merasakan sendiri arti penting dari kesempatan tersebut.
Tanpa bermaksud membandingkan perjalanan setiap penerima, saya percaya bahwa setiap orang memiliki cerita masing-masing setelah mendapatkan bantuan pendidikan. Ada yang menjadi profesional, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, menjadi peneliti, bekerja di industri, atau mengabdi di berbagai bidang.
Dalam perjalanan saya, kesempatan tersebut membawa saya ke dunia pendidikan vokasi.
Dari keluarga petani di Prambanan, saya dapat melanjutkan kuliah. Dari kuliah, saya mendapatkan pengalaman di dunia pendidikan dan industri. Dari pengalaman tersebut, saya kemudian memilih untuk menjadi guru SMK dan terus mengembangkan kompetensi sebagai pendidik.
Karena itu, saya memandang pendidikan vokasi bukan hanya sebagai tempat saya bekerja, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup saya.
Saya pernah menjadi siswa SMK. Saya pernah menjadi mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin. Saya pernah merasakan lingkungan industri. Dan sekarang saya berada di sisi lain, yaitu menjadi guru yang mendampingi siswa SMK mempersiapkan masa depan mereka.
Pengalaman sebagai penerima Bidikmisi juga membuat saya memiliki cara pandang tersendiri ketika bertemu dengan siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi mempunyai semangat belajar.
Saya tahu bahwa terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya kemampuan, tetapi juga sebuah kesempatan.
Saya pernah berada pada posisi tersebut.
Karena itu, ketika sekarang saya berdiri di depan siswa sebagai seorang guru, saya ingin mereka percaya bahwa latar belakang keluarga bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Saya tidak ingin memberikan janji bahwa semua akan menjadi mudah, tetapi saya ingin mereka memahami bahwa kesempatan untuk belajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Saya juga ingin pengalaman yang saya dapatkan selama perjalanan pendidikan dan industri dapat saya teruskan kepada siswa. Saya ingin mereka memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap kerja, dan keberanian untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Bagi saya, inilah salah satu makna dari pendidikan vokasi.
Pendidikan vokasi mempertemukan pendidikan dengan dunia kerja. Karena itu, pengalaman yang diperoleh seorang pendidik juga harus terus berkembang mengikuti kebutuhan industri.
Itulah sebabnya saya terus mengikuti pelatihan dan mengembangkan kompetensi di bidang Pengelasan, CAD, CNC, Pemesinan, Robot Welding, hingga Alat Berat. Saya ingin apa yang saya pelajari tidak berhenti pada diri saya, tetapi dapat diteruskan kepada siswa melalui proses pembelajaran di sekolah.
Jika saya kembali mengingat perjalanan dari Prambanan hingga hari ini, saya merasa bersyukur pernah mendapatkan kesempatan menjadi penerima Bidikmisi.
Tahun 2014, saya menerima kesempatan tersebut sebagai mahasiswa.
Tahun 2019, saya menyelesaikan pendidikan S1 dan mulai menapaki profesi sebagai guru.
Tahun-tahun berikutnya, saya mendapatkan pengalaman sebagai pendidik, mengenal lebih dalam dunia industri, menjadi ASN, dan dipercaya sebagai Kepala Bengkel.
Tahun 2025, saya kembali ke UNY untuk melanjutkan pendidikan S2.
Dan pada Agustus 2026, saya menyelesaikan pendidikan S2 Pendidikan Teknik Mesin.
Ketika saya menuliskan perjalanan ini, saya menyadari bahwa jaraknya cukup panjang. Tetapi semuanya memiliki satu benang merah: kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Bagi saya, Bidikmisi adalah awal dari perjalanan tersebut.
Kini nama programnya telah berkembang menjadi KIP Kuliah. Generasi penerimanya pun terus berganti. Namun, saya berharap semangat yang ada di balik program tersebut tetap sama: memberikan kesempatan kepada anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan tinggi dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Saya adalah salah satu orang yang pernah merasakan kesempatan itu.
Dari Prambanan, saya belajar tentang kerja keras.
Dari keluarga petani, saya belajar tentang ketekunan.
Dari SMK, saya mengenal dunia teknik dan keterampilan.
Dari Bidikmisi, saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Dari UNY, saya mendapatkan ilmu dan pengalaman untuk menjadi pendidik.
Dari dunia industri, saya belajar tentang disiplin, kompetensi, kualitas, dan tuntutan dunia kerja.
Dan dari dunia pendidikan vokasi, saya menemukan ruang untuk meneruskan ilmu dan pengalaman tersebut kepada generasi berikutnya.
Saya tidak ingin perjalanan sebagai penerima Bidikmisi berhenti pada diri saya ketika saya menerima ijazah.
Saya ingin perjalanan itu terus memiliki arti melalui pekerjaan yang saya lakukan, melalui siswa-siswa yang saya ajar, dan melalui kontribusi yang dapat saya berikan dalam pendidikan vokasi.
Karena pada akhirnya, menurut saya, keberhasilan sebuah program pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil menyelesaikan kuliah. Lebih jauh dari itu, keberhasilannya juga dapat dilihat dari apa yang dilakukan para penerimanya setelah mereka mendapatkan kesempatan.
Saya bersyukur karena kesempatan yang saya terima pada tahun 2014 membawa saya sampai pada titik ini.
Dari seorang anak keluarga petani di Prambanan, saya mendapatkan kesempatan untuk kuliah, mengenal dunia industri, menjadi guru, menjadi ASN, melanjutkan pendidikan hingga S2, dan akhirnya mengabdikan diri di dunia pendidikan vokasi.
Bidikmisi telah menjadi bagian dari masa lalu perjalanan saya. KIP Kuliah adalah kelanjutan dari semangat yang sama bagi generasi hari ini. Dan saya berharap, seperti halnya yang saya rasakan, kesempatan itu terus melahirkan lebih banyak cerita tentang anak-anak Indonesia yang berani melangkah, belajar, dan kemudian kembali memberikan manfaat bagi bangsa.
Bagi saya, perjalanan ini bukan tentang seberapa jauh saya telah melangkah.
Perjalanan ini adalah tentang sebuah kesempatan yang pernah diberikan kepada saya dan bagaimana saya berusaha membuat kesempatan itu berarti.

0 Comments