Warung Walimat Penyedia Makanan Gratis Untuk siapapun yang ingin datang (M. Saepul)
Purwokerto — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Purwokerto, tepatnya di
kawasan Bobosan, berdiri sebuah rumah makan sederhana yang sarat makna sosial:
Warung Walimat, atau dikenal juga sebagai Warung Peduli Umat. Setiap hari Rabu
dan Jumat, warung yang terletak di seberang jalan utama Bobosan ini selalu
ramai didatangi warga. Bukan untuk sekadar makan, melainkan untuk merasakan
kehangatan kepedulian yang tersaji bersama sepiring nasi.
Warung
ini berdiri sejak tahun 2022, di tengah masa sulit pasca pandemi COVID-19. Dari
obrolan ringan antar anggota majelis taklim, muncul ide sederhana namun
berdampak besar: membuka warung makan gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. “Awalnya
kami hanya ingin membantu warga sekitar yang kesulitan makan akibat dampak
COVID,” tutur Ibu Siti, selaku Ketua I Walimat. “Dulu kami buka tiga kali
seminggu. Tapi karena kesibukan ibu-ibu majelis, sekarang buka dua kali, setiap
Rabu dan Jumat mulai pukul 10.00 hingga makanan habis.”
Menariknya,
pengunjung Warung Walimat datang dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa
yang sedang berhemat, santri yang menimba ilmu di pesantren sekitar, ibu rumah
tangga, hingga pekerja harian yang singgah untuk sekadar mengisi perut di sela
aktivitas. Semua duduk berdampingan di meja-meja sederhana tanpa perbedaan. Di
sana, rasa lapar disatukan oleh kehangatan dan rasa syukur.
Meski gratis, menu yang disajikan tidak kalah dengan rumah makan pada umumnya. Mulai dari nasi, sayur, lauk pauk hingga minuman sederhana tersedia dengan penuh cinta. Semua disiapkan oleh para relawan yang sebagian besar adalah ibu-ibu Majelis Ta’lim. “Kami ingin berbagi dan bermanfaat untuk masyarakat. Bahkan banyak orang yang tiba-tiba datang membawa bahan makanan. Seperti tadi, ada yang mengantar satu kotak telur tanpa menyebut nama” ujar wakil ketua Walimat sambil tersenyum.
Konsep
makan di tempat menjadi ciri khas Warung Walimat. Suasana hangat dan
kekeluargaan selalu terasa di setiap meja. Tak jarang, pengunjung yang datang
bukan hanya karena lapar, tetapi juga karena ingin menikmati kebersamaan dan
obrolan ringan bersama para relawan. “Yang mengelola rata-rata ibu-ibu
majelis taklim. Mereka yang masak, menyajikan, dan melayani dengan hati”
tambah Bu Siti.
Terkait
pendanaan, Warung Walimat mengandalkan donasi masyarakat sekitar. Tidak ada
sponsor besar, tidak ada pemasukan tetap. Semua murni dari sumbangan sukarela. “Alhamdulillah,
kami nggak pernah kekurangan. Selalu ada rezeki yang datang, entah dari mana.
Ada yang nyumbang uang, ada yang nyumbang bahan makanan. Semua saling
bergandengan tangan” jelas Bu Indiani, salah satu relawan yang setiap hari
memantau jalannya warung.
Semangat
gotong royong inilah yang membuat Warung Walimat terus hidup dan dicintai
masyarakat. Di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai kemanusiaan yang dalam:
bahwa kebaikan bisa dimulai dari piring nasi dan tangan-tangan yang ikhlas.
Bagi
warga Bobosan dan sekitarnya, Walimat bukan sekadar warung makan , ia adalah
simbol kepedulian, bukti nyata bahwa kebersamaan dan empati masih tumbuh subur
di tengah masyarakat modern. Seperti kata Bu Siti menutup wawancara, “Kami
hanya ingin terus berbagi. Karena kalau kita memberi dengan hati, Allah pasti
cukupkan semuanya”.
Oleh:
Muhamad Saepul Saputra
0 Comments