Terkini

Mengukur Nilai di Era Viral: Ketika Popularitas Mengalahkan Kepakaran

Ilustrasi

Sebuah unggahan viral awal November lalu memantik percakapan publik yang kritis: seorang akademisi hanya menerima honorarium ratusan ribu rupiah, sementara seorang influencer di acara yang sama dibayar belasan juta. Kasus ini bukan sekadar anomali, melainkan cermin dari fenomena yang lebih besar—bagaimana masyarakat kita secara keliru mengukur nilai seseorang di era digital.

Kita hidup di masa ketika ukuran "keberhargaan" seolah disederhanakan menjadi satu parameter: seberapa viral seseorang. Dalam ekonomi perhatian ini, jumlah followers kerap menjadi mata uang baru yang dinilai lebih tinggi daripada publikasi ilmiah, riset bertahun-tahun, atau dedikasi mengajar. Konten yang menghibur selama 30 detik sering dianggap lebih bernilai daripada kontribusi yang mengubah kehidupan banyak orang dalam jangka panjang.

Perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan profesi influencer. Mereka memiliki keterampilan nyata dalam membangun komunitas dan strategi komunikasi massa. Namun, kesenjangan penghargaan finansial yang begitu ekstrem menunjukkan bahwa kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara popularitas sesaat dengan kepakaran yang dibangun melalui proses puluhan tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah pesan tersirat yang kita sampaikan kepada generasi muda. Ketika akademisi—pilar pencerdasan bangsa—tidak dihargai secara proporsional, apa pelajaran yang diambil anak-anak kita? Apakah gelar dan ilmu pengetahuan tidak lagi sepenting jumlah like dan followers? Apakah jalan pintas lebih dihargai daripada kerja keras yang konsisten?

Banyak akademisi memang dengan tulus menyebarkan ilmu secara sukarela, dan itu adalah tindakan mulia. Namun, ketika sebuah acara komersial yang menarik ratusan peserta berbayar tetap memberikan kompensasi tidak proporsional, di situlah letak persoalannya. Kita perlu membedakan antara aktivitas charity dengan kerja profesional yang semestinya dihargai secara layak.

Persoalan mendasar bukan terletak pada mereka yang mencari nafkah dari popularitas, melainkan pada sistem nilai masyarakat yang mulai tidak relevan. Ketika pasar lebih menghargai kuantitas daripada kualitas, dan ketika kepakaran kalah jauh dari jumlah followers, maka ada yang salah dalam cara kita menilai kontribusi sosial.

Masyarakat kita membutuhkan literasi nilai yang baru. Kita harus belajar kembali menghargai kontribusi substansial, bukan hanya yang terlihat glamor di media sosial. Akademisi, peneliti, dan pendidik adalah pondasi peradaban—mereka yang memajukan ilmu pengetahuan, mencerdaskan bangsa, dan membuka jalan bagi inovasi. Penghargaan terhadap mereka bukan sekadar soal uang, melainkan bentuk penghormatan terhadap proses panjang pembangunan kepakaran.

Jangkauan memang penting dalam era digital, tetapi jangkauan tanpa substansi hanya menghasilkan gema kosong. Kita tidak harus memilih antara menjadi viral atau menjadi bernilai—keduanya dapat berdampingan. Yang kita butuhkan adalah keadilan dalam penghargaan: memberikan porsi yang sepadan dengan kontribusi nyata yang diberikan setiap profesi.

Pada akhirnya, tersisa satu pertanyaan mendasar: Masihkah kita mampu membedakan antara yang viral dengan yang benar-benar bernilai?

Oleh: Nadiva Ismi Wardani

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close