Terkini

Pertemuan dengan SBY di Pacitan, Momentum yang Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan Bidikmisi

PACITAN — Momen penuh makna terjadi ketika Abdul Rahman Masruhim, yang akrab disapa Puang Eman, Pendiri BIDIKIN, berkesempatan bertemu dan berpose bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pacitan, Jawa Timur, kota kelahiran Presiden ke-6 Republik Indonesia tersebut.

Pertemuan singkat itu menjadi momen istimewa bagi Puang Eman. Meski tidak sempat berbincang langsung dengan SBY, kesempatan untuk bertemu dan mengabadikan momen bersama tokoh yang memiliki sejarah penting dalam perjalanan program beasiswa pendidikan tinggi tersebut menjadi pengalaman yang sangat disyukuri.

Bagi Puang Eman, pertemuan tersebut memiliki makna tersendiri karena berkaitan erat dengan perjalanan Bidikmisi, program bantuan pendidikan tinggi yang sangat dikenal oleh generasi mahasiswa penerima beasiswa.

Bidikmisi mulai dikenal luas sejak 2010 dan selama satu dekade menjadi salah satu program penting dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Mulai 2020, Bidikmisi bertransformasi menjadi KIP Kuliah, yang hingga kini terus menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Dalam perjalanannya, ratusan ribu alumni penerima Bidikmisi telah menyelesaikan pendidikan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan melanjutkan kiprah hingga tingkat internasional. Mereka hadir di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, dunia usaha, profesional, teknologi, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.


“Sepuluh Tahun Bersama SBY, Sedetik Pun Tidak Pernah Bertemu”

Momen pertemuan di Pacitan juga menjadi jawaban atas perjalanan panjang yang pernah ditulis Puang Eman melalui sebuah artikel berjudul “Sepuluh Tahun Bersama SBY, Sedetik Pun Tidak Pernah Bertemu.”

Tulisan tersebut menggambarkan perjalanan dan kedekatan emosional Puang Eman dengan semangat perjuangan Bidikmisi selama bertahun-tahun, tanpa pernah memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan SBY.

Kini, setelah perjalanan tersebut, kesempatan itu akhirnya datang di Pacitan. Walaupun hanya berlangsung singkat dan tanpa percakapan langsung, pertemuan tersebut justru memberikan kesan mendalam.

“Saya sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu dan berpose bersama Pak SBY. Memang tidak sempat ngobrol, tetapi bagi saya ini adalah sebuah momentum yang sangat berarti. Setelah tulisan ‘Sepuluh Tahun Bersama SBY, Sedetik Pun Tidak Pernah Bertemu’, akhirnya saya dipertemukan dengan beliau di Pacitan, kota kelahirannya,” ungkap Puang Eman.


Menjadi Energi Baru untuk BIDIKIN

Pertemuan tersebut tidak hanya dipandang sebagai momen pribadi, tetapi juga menjadi energi baru bagi Puang Eman untuk terus mengembangkan BIDIKIN sebagai wadah yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan dan perjalanan mahasiswa penerima Bidikmisi maupun KIP Kuliah.

Menurutnya, semangat yang dibangun melalui Bidikmisi tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menerima beasiswa atau menyelesaikan pendidikan. Lebih jauh, semangat tersebut harus terus dilanjutkan melalui kontribusi alumni bagi masyarakat dan bangsa.

Karena itu, BIDIKIN diarahkan menjadi ruang untuk berbagi informasi, inspirasi, pengalaman, karya, peluang, serta membangun jejaring antarmahasiswa dan alumni penerima Bidikmisi maupun KIP Kuliah.

“Pertemuan ini menjadi semangat bagi saya untuk terus membangun BIDIKIN. Bukan sekadar sebuah platform, tetapi menjadi wadah yang bisa menghubungkan, menginspirasi dan mendorong mahasiswa serta alumni untuk terus berkarya dan memberikan manfaat,” tutur Puang Eman.


BIDIKIN membawa semangat:

Inspirasi • Berkarya • Bermakna • Peduli

Semangat tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara perjalanan masa lalu, perjuangan hari ini, dan kontribusi generasi penerima beasiswa untuk masa depan.

Bagi Puang Eman, pertemuan dengan SBY di Pacitan menjadi sebuah pengingat bahwa sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari rasa kagum terhadap perjuangan pendidikan dapat melahirkan semangat untuk terus bergerak dan memberi manfaat.

Dari Bidikmisi menuju KIP Kuliah, dari penerima manfaat menuju alumni yang berkontribusi, dan dari sebuah kenangan menuju gerakan baru melalui BIDIKIN.

“Perjalanan belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan untuk pendidikan, mahasiswa, alumni, dan generasi penerus bangsa.”

BIDIKIN — Inspirasi, Berkarya, Bermakna, Peduli.

0 Comments


Type and hit Enter to search

Close